cet_rineee
- Reads 6,252
- Votes 1,099
- Parts 34
Keonho tidak pernah menyangka bahwa satu cedera di lapangan basket akan mengubah seluruh hidupnya.
Ia adalah kapten basket-kuat, disiplin, selalu terlihat tak tergoyahkan.
Seonghyeon adalah ketua PMR-tenang, lembut, terbiasa menyembuhkan luka orang lain, tanpa pernah menyadari bahwa dirinya sendiri akan menjadi tempat pulang seseorang.
Pertemuan mereka dimulai dari luka di lutut, berlanjut pada tatapan yang terlalu lama, dan berkembang menjadi rasa yang tak bisa lagi disembunyikan.
"Aku suka caramu khawatir sama aku," ucap Keonho santai suatu hari.
"Dan aku pengen... kamu terus ada di sampingku."
Namun cinta tidak datang tanpa harga.
Saat Keonho menemukan kelemahannya ada pada Seonghyeon, orang lain pun melihatnya sebagai celah. Ancaman, teror, hingga sebuah kejadian yang hampir merenggut nyawa Seonghyeon memaksa mereka belajar satu hal:
bahwa mencintai berarti siap melindungi, meski dengan seluruh ketakutan yang ada.
Di ruang pengadilan yang dingin, Keonho menggenggam tangan Seonghyeon-tak pernah melepasnya, bahkan saat dunia terasa runtuh.
"Kalau kamu takut," bisiknya,
"pegang aku. Aku di sini."
Dan setelah badai itu berlalu, mereka memilih bertahan.
Dengan luka yang perlahan sembuh.
Dengan trauma yang tak lagi dihadapi sendirian.
Dengan cinta yang semakin nyata-bahkan di hadapan dunia.
"Habiskan makannya, sayang."
Satu kata itu cukup membuat satu kantin hening...
dan Seonghyeon menunduk, menahan salting.
Ditemani sahabat yang selalu setia-Juhoon dan Martin-kisah ini bukan hanya tentang cinta remaja, tapi tentang penyembuhan, keberanian, dan memilih untuk tetap percaya, meski pernah hampir kehilangan segalanya.
Karena pada akhirnya,
bukan siapa yang paling kuat yang bertahan-
melainkan mereka yang memilih untuk saling menggenggam, dan tidak melepaskan.