RyIntco's Reading List
2 stories
Hiatus | Refleksi Gerhana oleh RyIntco
RyIntco
  • WpView
    Membaca 147
  • WpVote
    Suara 14
  • WpPart
    Bagian 10
≥ Ada Ilustrasi! Namun dari Ai, jadi jangan berharap lebih ya ≤ "Hei, kamu! Iya, kamu yang lagi pegang buku ini. Mau ke mana? Sudah sampai di sini, kenapa nggak masuk sebentar? Aku Sabit, dan aku yakin ada alasan kenapa kita bertemu hari ini." Sabit berdiri di hadapanmu, dengan senyum lebar yang seolah memancarkan semangat dari mata hijaunya. Purnama, berdiri di sebelah Sabit dengan tenang, memberikanmu senyuman lembut. "Jangan takut, Sabit memang selalu bersemangat seperti itu. Aku Purnama, senang akhirnya bisa berjumpa denganmu." Suara lembutnya seperti bisikan angin malam, menenangkan dan mengundang. Sabit mengangguk, melanjutkan, "Kami berdua suka sekali mengajak orang ke dunia yang kami ciptakan, dan kebetulan, kamu adalah tamu kehormatan kami hari ini. Jadi, gimana? Mau masuk ke dunia yang penuh dengan keajaiban, romansa, dan mungkin sedikit kegilaan?" Purnama menambahkan dengan senyum yang tenang, "Kami sudah menyiapkan semuanya untukmu. Cerita-cerita yang mungkin akan membuatmu tertawa, terharu, atau bahkan terinspirasi. Kami berdua sangat senang menulis, dan lebih dari itu, kami ingin membagikan semua keajaiban yang kami temukan denganmu." Sabit meraih tanganmu, seolah mengajakmu masuk lebih jauh, "Jadi, kamu siap? Jangan khawatir, Purnama akan memastikan kamu merasa nyaman di setiap langkahnya." Purnama mengangguk lembut, "Ayo, mari kita mulai perjalanan ini bersama-sama. Kami akan menemanimu di setiap halaman." Dengan begitu, mereka berdua membawamu masuk ke dalam cerita yang sudah mereka siapkan, menyambutmu dengan hangat di dunia yang penuh warna dan makna.
Hiatus | Senandika: Kisah-kisah Tidak Sempurna oleh RyIntco
RyIntco
  • WpView
    Membaca 167
  • WpVote
    Suara 38
  • WpPart
    Bagian 27
"Hei, kau di sana," suara Sabit tenang, tapi ada sesuatu dalam nadanya yang memanggil perhatianmu. Di sisinya, Purnama tersenyum lembut, "Kami adalah Sabit dan Purnama," katanya, suaranya serupa melodi, "dan kami di sini untuk mengundangmu masuk ke dalam Senandika-di mana kisah-kisah sederhana tumbuh menjadi lebih dari sekadar cerita." Sabit melirikmu sekilas, seolah menegaskan bahwa ini bukan sekadar undangan biasa. "Kami merajut kenyataan dan imajinasi menjadi satu. Setiap kisah dimulai dari sesuatu yang akrab, yang mungkin kau kenal, tetapi perlahan, kami menambah lapisan, mengubahnya menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam, lebih bermakna." Jelas Purnama. "Namun, kau perlu tahu, tak semua cerita akan berakhir dengan sempurna. Beberapa bagian kami sengaja biarkan terbuka, seakan menggantung, tanpa jawaban yang jelas. Itu bukan karena kelalaian, tapi karena ada hal-hal yang sebaiknya dibiarkan tak terjawab." Sabit mengangguk, menyetujui kata-kata Purnama. "Plot hole? Mungkin. Tapi di balik setiap kekosongan itu, ada kesempatan bagi imajinasimu untuk mengisi ruang yang tersisa. Kami memberi petunjuk, ya, tapi tidak selalu menutup semuanya. Ada yang perlu kau temukan sendiri-potongan-potongan cerita yang tersembunyi di antara baris-baris." Purnama kembali tersenyum, suasana terasa hangat seketika. "Di dunia kami, narasi ibarat malam panjang-tenang, misterius, dan selalu ada sesuatu yang disembunyikan di balik bayang-bayang. Kau mungkin merasa ada yang hilang, namun dalam kekosongan itulah keajaiban bersembunyi." Sabit ikut tersenyum tipis, anggukan kepalanya seolah menjadi penutup percakapan. "Kami ingin kau menjadi bagian dari keajaiban ini-sebuah dunia di mana kenyataan dan fantasi berpadu, menciptakan kisah yang bukan hanya memikat, tapi juga menggugah pemikiran. Jadi, bagaimana? Apakah kau siap bergabung dengan kami