flaviandandelion
Di pulau terpencil, menara gading mencakar langit kelabu, Sekolah asrama megah, penjara emas bagi darah biru. Di sana, seorang pewaris tahta menyendiri di tepi telaga, Membaca buku tua, menjauh dari ingar-bingar dunia yang fana. Ialah sang Golden Spoon, merana dalam sepi yang mendalam,
Hingga denting kekejaman memecah sunyi malam. Sesosok tubuh mungil didera, ditindas, dihinakan, Kasta Cuprum Spoon yang malang, sasaran empuk kebiadaban. Dahi berdarah, mata sayu, nyaris merenggang nyawa di dasar kolam, Sang Golden Spoon bergegas, menyelamatkannya dari cengkeraman maut yang kejam. Terkesiap hati, terbeliak mata, rahasia pilu terungkap sudah,
Junior yang ditolongnya, bisu tanpa kata, dari kasta yang terendah.
Perlahan, di kamar asrama yang luas dan hampa, Dua jiwa yang kesepian bertaut dalam ikatan yang nyata. Si Cuprum Spoon yang diam, ternyata menyimpan bakat yang luar biasa, Hanya sang Golden Spoon yang tahu, harta karun yang tersembunyi di balik cadar.
Hingga hari yang malang itu tiba, petaka menimpa sang sahabat, Si Cuprum Spoon ditindas, dianiaya, hingga hilang tanpa jejak yang berkat. Bagaikan ditelan bumi, lenyap dalam kegelapan yang pekat, Meninggalkan sang Golden Spoon menangis pilu, hatinya remuk redam dan sekarat.
Sebulan penuh ia berduka, berselimut kesedihan yang tak berujung, Apakah si Cuprum baik-baik saja? Ataukah ia telah melakukan hal yang nekat?