ruruby__
Cinta tidak selalu berakhir karena rasa yang hilang. Sering kali ia mati karena seseorang diminta merendahkan diri, lalu kebiadaban itu dinamai "pengorbanan."
Dunia gemar memuji mereka yang bertahan, bahkan ketika harga diri telah diinjak tanpa sisa. Namun dua insan memilih jalan yang dianggap paling tidak romantis oleh dunia, yaitu pergi sebelum martabat benar-benar hancur.
Si perempuan menolak cinta yang hanya hidup jika ia mau berlutut.
Si pria menawarkan cinta yang tidak butuh korban, apalagi kehinaan.
Karena cinta yang pantas tidak pernah lahir dari penghinaan yang disepakati.
de Monclair:
Aku tidak akan menyerahkan hatiku pada siapa pun.
Bukan karena hatiku beku, melainkan karena aku telah melihat bagaimana cinta mengikis martabat, mengajari manusia memaafkan penghinaan lalu menyebutnya ketulusan.
Dan pada titik itulah, segalanya menjadi terbalik:
Sebab bila kelak kauludahi wajahku dengan hina, akulah yang justru bersujud di hadapanmu- meski kaulah yang melukaiku.
de Rochette:
Aku tidak mencintaimu untuk dimuliakan di atasmu, dan aku tidak membutuhkan lututmu untuk merasa berharga.
Bukan karena aku takut pada penolakan, melainkan karena aku memahami bahwa cinta yang layak tidak pernah menuntut seseorang menanggalkan harga dirinya.
Sebab yang kutawarkan kepadamu
bukan pengorbanan, melainkan keutuhan.
Aku tidak hadir untuk melukaimu.
Dan bila suatu hari aku gagal menjaga itu, aku akan pergi sebelum cinta berubah menjadi alasan untuk merendahkanmu.