Mine
2 stories
Jenggala: Please hug me [END] by PangsitRebus930
PangsitRebus930
  • WpView
    Reads 2,738
  • WpVote
    Votes 250
  • WpPart
    Parts 34
Author's Note ⚠️ Cerita ini murni hasil imajinasi dan karya asli penulis. Ditulis dengan waktu, tenaga, dan perasaan. ⚠️ DILARANG KERAS menyalin, menjiplak, mengklaim, atau mempublikasikan ulang sebagian maupun seluruh isi cerita ini ke platform mana pun tanpa izin penulis. Plagiarisme adalah tindakan tidak terpuji dan dapat ditindak sesuai aturan yang berlaku. Untuk para pembaca, mohon bijak dalam membaca. Hormati karya, penulis, dan sesama pembaca. Gunakan bahasa yang sopan di kolom komentar, tidak menyebarkan kebencian, tidak memaksakan opini, dan tidak membawa isu sensitif secara berlebihan. Jika ada kritik atau saran, silakan disampaikan dengan bahasa yang santun dan membangun. Terima kasih sudah membaca dan menghargai karya ini ✨ __________________ "Tolong biarkan aku hidup tenang. Sehari saja." Kalimat itu tertulis di buku harian Jenggala, tanpa tanda seru, tanpa tangis. Terlalu lelah untuk berteriak, terlalu terbiasa untuk berharap. Jenggala hidup, tapi tidak benar-benar menjalani hidup. Hari-harinya dipenuhi suara yang melukai, tangan yang tak pernah ramah, dan luka yang dipaksa sembuh sebelum sempat bernapas. Ia tak meminta bahagia-ia tahu itu kemewahan. Ia hanya ingin satu hari tanpa rasa takut, tanpa bentakan yang datang lebih dulu dari pagi, tanpa sakit yang harus ditelan diam-diam. Namun dunia seolah menolak permintaannya. Tenang adalah hal yang selalu luput, seperti cahaya yang sengaja dipadamkan setiap kali ia mencoba mendekat. Senyum pun menjadi barang asing, sesuatu yang pernah ada, tapi kini tak lagi ia kenali. "Senyuman lo terlalu mahal, kak," ucap Aruna pelan. "Saking mahalnya... gue gak pernah lihat lo senyum." Jenggala tak menjawab. Karena ada luka yang tak bisa dijelaskan dengan kata- dan ada hidup yang terlalu menyakitkan untuk sekadar tersenyum.
Silent Fractured  [ON GOING] by PangsitRebus930
PangsitRebus930
  • WpView
    Reads 228
  • WpVote
    Votes 64
  • WpPart
    Parts 17
Author's Note ⚠️ Cerita ini murni hasil imajinasi dan karya asli penulis. Ditulis dengan waktu, tenaga, dan perasaan. ⚠️ DILARANG KERAS menyalin, menjiplak, mengklaim, atau mempublikasikan ulang sebagian maupun seluruh isi cerita ini ke platform mana pun tanpa izin penulis. Plagiarisme adalah tindakan tidak terpuji dan dapat ditindak sesuai aturan yang berlaku. Untuk para pembaca, mohon bijak dalam membaca. Hormati karya, penulis, dan sesama pembaca. Gunakan bahasa yang sopan di kolom komentar, tidak menyebarkan kebencian, tidak memaksakan opini, dan tidak membawa isu sensitif secara berlebihan. Jika ada kritik atau saran, silakan disampaikan dengan bahasa yang santun dan membangun. Terima kasih sudah membaca dan menghargai karya ini _______☆________ "Let's live longer, my home." Nyatanya, kehadiran seseorang yang dulu dianggap biasa adalah tempat bersandar paling nyaman. Bukan tentang seberapa lama kita mengenalnya, melainkan tentang seberapa jauh kita bertahan bersama. Saat dirinya nyaris hancur diserang nestapa, jiwanya luruh bersama derita, dan kewarasannya tandas oleh luka. Disitulah kisah ini dimulai, saat dimana sosok "dia" yang menjadi tempat pulang ternyaman di tengah jiwa yang berduka, dan saat "dia" menjadi rumah di tengah kesunyian yang menghantam dada. Dua orang yang sama-sama terluka, dipertemukan oleh takdir yang tak terduga. Pertemuan sederhana yang diam-diam merajut kisah menyenangkan sekaligus menyakitkan. Mereka saling menggenggam, mengharapkan sejumput kebahagiaan di akhir kisah yang telah mereka perjuangkan. "Tragedi terbesar dalam hidupku adalah jatuh hati padamu. Tentang bagaimana kamu menawarkan banyak warna pada hidupku yang kelabu, dan tentang bagaimana kamu menjadi payung saat hujan kembali menghatuiku." "Dan bagiku, kamu adalah sebuah film dengan episode-episode penuh makna, yang mengajarkanku cara untuk bertahan lebih lama-meski hanya seperti kupu-kupu yang tak lagi terbang, tapi tetap hidup dengan caranya sendiri."