bapakxboty
- LECTURES 2,215
- Votes 24
- Chapitres 3
Kehidupan Beno sebenarnya sama aja kayak remaja desa pada umumnya, sederhana dan apa adanya. Di usianya yang udah menginjak 15 Tahun, cowok berkulit sawo matang, mungil dan manis ini masih duduk di bangku kelas 3 SMP. Rumahnya berdinding batako tanpa plester yang estetik, tapi di situlah kehangatan sebuah keluarga kecil berada. Beno tinggal bersama kedua orang tuanya, Pak Deri dan Bu Heni, yang saban hari banting tulang demi sesuap nasi dan biaya ujian Beno yang sebentar lagi lulus.
Pak Deri, sang kepala keluarga yang berusia 45 tahun, adalah sosok kuli bangunan yang sangat disegani di proyek desa. Kerja kasar membelah batu, mengaduk semen, dan memikul sak-sak semen tebal bertahun-tahun telah menempa tubuhnya menjadi sangat kokoh. Badannya kekar berurat dengan dada bidang yang lebar, kulitnya legam terbakar matahari, memancarkan aura jantan yang luar biasa kuat. Setiap kali Pak Deri pulang kerja dengan kaos singlet yang basah kuyup oleh keringat, urat-urat di lengan besarnya berdenyut, menciptakan pemandangan yang selalu membuat jakun Beno naik turun.
Sementara itu, Bu Heni adalah tipe ibu rumah tangga yang rajin. Dari jam empat subuh, wanita paruh baya itu sudah sibuk di dapur membuat aneka kue tradisional seperti cenil, lupis, dan dadar gulung untuk dijajakan di pasar desa sampai siang hari. Praktis, setelah jam dua siang, Bu Heni biasanya bakal ketiduran di kamar karena kelelahan, meninggalkan rumah dalam kondisi sepi. Di momen-momen sepi seperti inilah, pikiran Beno sering melayang ke tempat yang tidak seharusnya.