Zhaolusi
2 stories
Menemukanmu by DyahAdwiyah
DyahAdwiyah
  • WpView
    Reads 107
  • WpVote
    Votes 16
  • WpPart
    Parts 9
"aku heran kenapa kamu selalu tersenyum? " tanya yibo menatap lusi lusi terdiam dan menunduk "karna kalau aku tidak senyum bagaimana aku memperlihatkan kepada ibuku di atas sana kalau aku selalu baik2 saja bahkan tampa dirinya" ujar lusi melihat yibo "kamu cobalah tersenyum" celetuk lusi sambil memegang pipi yibo pipi yibo memerah dan hangat "ayooo.. " tambah lusi sambil tetap memaksa yibo untuk tersenyum. senyuman lusi, tatapan matanya semuanya begitu hangat yibo tiba2 memeluk lusi "entah mengapa senyummu membuatku merasa aku pantas hidup" bisik yibo meneteskan air mata "pantas hidup atau tidak. hanya kamu yang bisa menentukannya" Jawab lusi sambil membalas pelukan yibo "Yibo.. semua pasti akan terlewati.. mari sama2 berjuang kalau kita sama2 semuanya akan lebih mudah bukan? " yibo mempererat pelukannya "Ayo pulang aku masakan makanan kesukaanmu" tambah lusi tersenyum dan menarik tangan yibo yibo tersenyum dan mengikuti lusi "ya.. semua akan baik2 saja asal kamu selalu tersenyum" ujar yibo dalam hati sambil menatap lusi yang berjalan di depannya
Siluet Di Ujung Garis (BxB) - END by itsjihvn
itsjihvn
  • WpView
    Reads 6,082
  • WpVote
    Votes 267
  • WpPart
    Parts 44
Devano, mahasiswa semester empat jurusan Arsitektur, dikenal perfeksionis sekaligus keras kepala. Setiap desain yang ia buat selalu berujung revisi. Hari-harinya dihabiskan di depan layar laptop, bergelut dengan garis, bentuk, dan warna-hingga tanpa sadar ia mengabaikan Nicole, pacarnya selama dua tahun. Hubungan yang dulu hangat kini retak, dan akhirnya benar-benar berakhir. Kehilangan Nicole membuat Devano terpuruk. Ia kehilangan fokus, kreativitasnya menurun, dan tugas" desainnya makin berantakan. Hingga dosennya, Pak Ardan, memberikan peringatan tegas: jika semester ini ia gagal, Devano harus mengulang tahun depan. Namun, sang dosen memberinya jalan keluar, belajar dengan kakak tingkat bernama Jeandra, mahasiswa semester enam yang dikenal cerdas dan berbakat. Devano menuruti saran itu. Awalnya, semua berjalan baik. Jeandra sabar, tegas, dan tahu cara mengarahkan Dev agar berpikir lebih matang dalam desain. Tapi perlahan, Dev mulai menyadari ada sesuatu yang berbeda dari Jeandra. Tatapan mata itu, perhatian yang terasa lebih dari sekadar teman, dan cara Jeandra memperlakukannya... terasa aneh. Dev mencoba menepis pikiran buruknya. Namun semakin lama, godaan halus Jeandra semakin nyata. Dari candaan ringan hingga sentuhan kecil yang membuat jantung Dev berdebar tak karuan. Dev mulai berspekulasi mungkinkah Jeandra seorang gay? Ketakutan itu membuat Dev menjauh. Ia mencoba menegaskan kembali jati dirinya dengan mendekati perempuan lain. Tapi anehnya, sekuat apa pun ia berusaha, bayangan Jeandra selalu muncul di kepalanya. Senyum itu, tatapan itu semuanya menghantui pikirannya. Devano bingung. Ia tidak tahu sejak kapan perasaannya mulai berubah. Lelaki yang dulu begitu yakin akan orientasinya kini justru merindukan sosok yang sama sekali tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dan dari sinilah semuanya dimulai kisah yang tak hanya menguji batas logika dan perasaan, tetapi juga keberanian mereka menghadapi keluarga, masa lalu, dan pandangan dunia luar.