RonadiaElok
- Reads 29,480
- Votes 2,104
- Parts 33
Djanaka lahir di tengah keluarga yang namanya diagungkan di kota ini. Nama yang sebagai jaminan kehormatan, namun bagi Naka, nama itu hanyalah beban yang tak punya tempat bersandar. Di rumah megah itu, kasih sayang ternyata memiliki standar yang kejam. Karena ia dianggap "berbeda"-mungkin karena fisik, mungkin karena pembawaannya-ia menjadi orang asing di bawah atap yang sama. Di saat saudara-saudaranya yang lain dipeluk dengan hangat, Naka justru diasingkan dalam keramaian.
Pada usia empat tahun, saat anak-anak sebayanya baru belajar mengeja warna, Naka sudah dipaksa fasih mengeja kerasnya kehidupan. la adalah ironi yang berjalan. Ayahnya adalah orang berada, namun Naka adalah jiwa yang terlantar.
Meski sering diabaikan, Naka adalah bocah kecil yang sangat haus akan kasih sayang. Setiap sore setelah pulang menjajakan bunga, ia akan berdiri di balik gerbang mansion yang menjulang tinggi, menanti kepulangan Ayahnya dengan mata berbinar, berharap sang Ayah akan turun dari mobil dan mengusap kepalanya. la pun tak pernah menyerah mencari perhatian kakak-kakaknya ia akan mendekat dengan langkah ragu, hanya untuk sekadar ingin disapa. Begitu pula kepada Bundanya, keinginan terbesar Naka sangatlah sederhana ia hanya ingin sekali saja dibuatkan sop ayam hangat, sebuah hidangan yang sering ia lihat disuapkan Bunda kepada saudara-saudaranya yang lain.
Naka itu beda, jika kakak-kakaknya memanggil orang tua mereka dengan sebutan daddy dan mommy jika naka lebih suka memanggilnya dengan ayah bunda.