kapoorcellen2
Shift malam Ahyeon selalu berakhir jam 3 pagi. Dengan mata bengkak dan kopi dingin di tangan, dia mampir ke kafe 24 jam yang sama setiap hari-bukan karena kopinya paling enak, tapi karena baristanya paling diam.
Ruka. Tinggi, tatapannya tenang, dan tangannya yang bikin latte art jadi lukisan. Dia nggak pernah tanya "capek ya, dok?" seperti orang lain. Dia cuma taruh kopinya di meja, tambah satu shot ekstra, dan bilang, "Ini buat yang habis nyelametin orang."
Ahyeon cantik, cerdas, dan selalu punya jawaban untuk semua pasiennya. Tapi dia nggak punya jawaban untuk pertanyaan sederhana dari Ruka: "Kalau bukan dokter, kamu mau jadi apa?"
Pertemuan singkat jam 3 pagi itu jadi kebiasaan. Lalu jadi cerita.
Ahyeon yang hidupnya penuh kode darurat dan keputusan hidup-mati, ketemu Ruka yang dunianya berputar pelan, hangat, dan wangi kopi.
Dokter yang selalu buru-buru. Barista yang selalu menunggunya.
Satu menyembuhkan orang lain. Satu menyembuhkan dia.
Di antara suara mesin grinder dan pager rumah sakit, kisah romantis mereka diseduh pelan-pelan. Tanpa janji manis, tanpa terburu-buru. Hanya dua orang yang akhirnya pulang ke tempat yang sama: satu sama lain.
Kadang, cinta tidak datang seperti petir.
Kadang, cinta datang seperti kopi pagi-pahit di awal, tapi bikin ketagihan sampai habis.