Lucindauraleta
- Reads 1,068
- Votes 184
- Parts 12
[II]
Gentar tak mengerti arti dari mimpi-mimpi yang berdatangan silih berganti mengunjungi tiap malamnya. Terkadang mereka membicarakan sesuatu yang tampak penting. Kadang ia juga melihat mereka bertengkar.
"SOLAR!" Gentar tersentak kaget melihat kemunculan Voltra di suatu malam. Mata merah menyala Ayah terlihat bengis dan sangat mengintimidasi. Gamma kelihatan gemetar di depan komputer.
~~~~
Kondisi Boboiboy membaik dengan amat cepat, terima kasih pada usaha keras Gentar. Tubuh barunya siap digunakan. Tapi, tunggu, kenapa mata Boboiboy biru?
Sopan menutup mulutnya, gemetar. "Tidak mungkin ...."
~~~~
"Apa Adu Du baik-baik saja?" Geng Kokotiam tidak tahu harus menjawab apa pertanyaan singkat itu.
Boboiboy mengangguk paham. Matanya yang belum berubah warna, masih biru sapphire, terpejam. Banyak hal terjadi. Ia merasa lelah, padahal baru juga bangun dari tidur panjangnya.
"Boboiboy ...." Panggilan itu sekadar menjadi angin lalu buatnya. Boboiboy belum bisa memaafkan pria yang meninggalkannya sendirian di saat dirinya terpuruk kesepian.
~~~~
Master Elemental telah bangkit dari tidur abadinya. Sayup terdengar suara kekacauan di mana-mana. Akankah memori singkat penderitaan para Elemental memberi mereka secercah harapan?
~~~~
"Ahh! Ayah! Ibu! Sakit!" Erangan hampir setiap hari terdengar yang membuat Gempa merasa ingin menghajar Gamma.
"Aku salah apa, Ya Lord?" detik hati Solar yang bersembunyi di belakang Halilintar, tak berani bertemu mata dengan si pengendali tanah.
"Yang salah dirimu yang lain," balas Halilintar, dingin. Ia juga kesal. Gentar anaknya juga, woi!
~~~~
!!WARNING!!
Cerita ini mengandung adegan explicit dan implicit, kekerasan, dan bahasa yang bisa disebut kasar. Bijaklah dalam membaca.
Mengandung unsur homosexual. Yang tak nyaman pada topik di atas tolong tidak membaca book ini. Anda telah diperingatkan!
~~~~