Haku074
- Reads 1,837
- Votes 122
- Parts 6
Di dalam kelas, dia adalah gadis yang nyaris sempurna.
Pintar, sopan, selalu mengerjakan tugas tepat waktu, dan punya senyum polos yang membuat siapa pun sulit membayangkan dia melakukan sesuatu yang buruk. Guru-guru menyukainya, teman-temannya menganggapnya sebagai contoh siswi teladan, dan aku pun awalnya tidak melihat alasan untuk berpikir sebaliknya.
Sampai suatu hari, aku bertemu dengannya di luar sekolah.
Tidak ada seragam. Tidak ada senyum polos. Tidak ada suara lembut yang biasa kudengar di kelas.
Gadis yang berdiri di hadapanku terasa seperti orang yang sama sekali berbeda tatapannya tajam, pembawaannya percaya diri, dan auranya begitu intimidating. Dia terlihat jauh lebih berani, bebas, bahkan sedikit "nakal". Seolah-olah seluruh citra sempurna yang ia bangun di sekolah hanyalah sebuah peran.