Kavla23
- Reads 1,623
- Votes 382
- Parts 18
"Kalau kamu kedinginan, nggak perlu parasetamol, Jen. Cukup lihat mukaku, nanti hatimu hangat sendiri." - Vale, yang akhirnya dilempar buku anatomi oleh Jennie.
Jennifer Susanto adalah definisi kesempurnaan medis: kaku, steril, dan hidup berdasarkan urutan alfabetis. Baginya, hidup adalah diagnosis yang harus akurat. Namun, dunianya yang rapi menjadi berantakan saat ia menabrak patung instalasi setinggi dua meter milik Vale Bhaskara-si seniman "skena" keturunan Jawa-Korea yang hidupnya hanya berisi cat minyak, orasi mahasiswa, dan bangun siang.
Satunya bicara soal patofisiologi, yang lain bicara soal estetika kontemporer. Jennie ingin menyembuhkan dunia, sementara Vale ingin menggambar ulang dunia.
Di antara aroma antiseptik rumah sakit dan debu jalanan Sayidan, mereka harus menemukan jawaban: Apakah cinta bisa dihitung dengan logika kedokteran, atau justru cinta adalah variabel paling abstrak yang tak akan pernah bisa diselesaikan oleh seni manapun?
©Jeon KAVLA (2026)