virolechen
- Reads 2,060
- Votes 225
- Parts 5
Suara itu nyamber dari luar toilet cowok, nyaring dan tanpa mikir panjang.
"Karim? Keluar, woi. Lama amat. Muka lu bikin kakak nunggu, tau."
Karim yang baru kelar cuci tangan langsung kaku. Jantungnya berdegup aneh. Itu suara yang sama lagi.
Begitu pintu toilet kebuka, Freya udah berdiri di situ. Nyender santai di dinding, ekspresinya tenang tapi matanya jahil.
"Kak-" Karim refleks nurunin suara. "Jangan kenceng-kenceng, please..."
Freya senyum tipis. "Kenapa? Takut ada yang denger kalo lu ganteng?"
Karim mundur setengah langkah. Salah besar. Freya langsung maju, satu tangan nahan dinding di samping kepala Karim. Brak. Kabedon. Karim kejedot dikit, punggungnya nempel tembok dingin. Nametag-nya lepas, jatuh ke lantai.
Freya ngelirik nametag itu sebentar, lalu balik natap Karim.
"Ih," katanya pelan. "Namanya juga lucu."
"Kak, please..." Karim nelen ludah. "Ini depan toilet..."
"Iya, gue tau," Freya jawab santai. "Makanya seru."
Dia condong dikit, jaraknya bikin Karim susah napas.
"Gue cuma mau nanya," katanya rendah.
"Lu sadar nggak sih efek muka lu ke orang?"
"Kak..." suara Karim nyaris habis.
Freya ketawa kecil. "Tenang aja. Gue cuma kagum."
Karim diem. Takut, malu, tapi juga bingung. Karena di balik semua kepanikannya, dia sadar satu hal: kakak tingkat ini cantik-dan bahaya.
Tahun pertamanya sebagai maba FISIP Universitas Nusantara bahkan belum resmi dimulai.
Tapi ujian mentalnya?
Udah jalan duluan.
Dan namanya Freya Jayawardana.