imnotdennise
- Membaca 31,797
- Vote 2,854
- Bab 25
Heeseung tidak pernah mengira perhatian seorang guru baru⎯ masih muda⎯ di sekolahnya itu bisa terasa begitu... menghanyutkan. Pak Sunghoon⎯ sosoknya tenang, rapi, dan berwibawa⎯ mempunyai daya tarik yang tak masuk akal.
Dari bagaimana caranya bicara, caranya berdiri, caranya menatap seakan tahu lebih banyak tentang Heeseung daripada orang lain. Terlalu menenangkan. Terlalu intim untuk sesuatu yang seharusnya bisa lebih profesional.
Awalnya hanya dalam bentuk komentar kecil, pujian tipis yang terselip di sela jam pelajaran. Lalu tatapan yang bertahan sedikit lebih lama dari seharusnya. Ruang kelas yang sengaja di kunci, percakapan yang terasa terlalu pribadi, dan sentuhan ringan yang tak sengaja⎯ atau memang disengaja.
Perhatian itu bukan lagi sekadar perhatian.
Ada tekanan halus di dalamnya.
Pengakuan. Kepatuhan. Keterikatan.
Sunghoon tahu bagaimana mengemas perintah menjadi permintaan. Bagaimana membuat Heeseung percaya bahwa ia spesial, dipilih, dan sangat penting bagi seseorang yang seharusnya mustahil untuk didekati. Setiap kata, setiap senyum, dan setiap kehadirannya terasa seperti jebakan yang terbungkus kelembutan dengan rapih.
Dan saat satu per satu siswa mulai menghilang, Heeseung baru memahami sesuatu yang jauh lebih menakutkan: obsesi Sunghoon bukan kasih sayang⎯ itu klaim kepemilikan.
Di mata Sunghoon, cinta bukan perasaan.
Cinta adalah kendali. Dan Heeseung, tanpa sadar, sudah berada terlalu dekat untuk melepaskan diri.