mochiwzayy
- Reads 604
- Votes 66
- Parts 21
"Kalau kehadiranku hanya membawa sial, kenapa Tuhan tidak mencabut nyawaku sejak tangis pertama?"
Bagi keluarga Adijaya, Aska adalah sebuah kesalahan besar. Sejak hari kelahirannya yang bertepatan dengan runtuhnya bisnis keluarga, Aska dicap sebagai pembawa sial. Ia hidup di dalam rumah yang mewah, namun dengan perlakuan yang lebih rendah dari seorang pelayan. Ia dikucilkan, diabaikan, dan dianggap tidak pernah ada oleh Ayah dan Bundanya sendiri.
Di sisi lain, ada Angkasa. Abang kandung Aska yang menjadi anak emas. Di depan orang tua mereka, Angkasa adalah putra sempurna yang membanggakan. Namun di balik topeng itu, Angkasa adalah sosok provokatif yang licik. Ia tidak pernah absen menyulut api, memfitnah, dan memastikan hidup Aska seperti di neraka.
Setiap hari adalah medan perang tanpa senjata bagi Aska. Ketika perselisihan demi perselisihan tiada henti menghancurkan mentalnya, raga yang penuh luka itu akhirnya menembus batas pertahanan terakhir. Aska memilih menyerah pada takdir, menemui maut demi menghentikan penderitaannya.
Saat napas Aska benar-benar habis, penyesalan luar biasa baru menghantam Ayah, Bunda, dan Angkasa. Namun, apakah tangisan dan kata maaf mereka masih ada gunanya jika sang pemilik luka sudah tenang di keabadian?