My Pen
Истории 4
Wewayangan Mataram | Jeno & Jaemin на JustSavina
JustSavina
  • WpView
    Прочтений 36
  • WpVote
    Голосов 7
  • WpPart
    Частей 1
"Kalau memang reinkarnasi itu ada, semoga kita dipertemukan kembali dengan takdir yang lebih baik, kawan." ~ Johannes Van den Berg. "Iya, tolong jadilah saudaraku di kehidupan berikutnya... Murni dalam ikatan darah, tanpa ada perbedaan status dan takdir menyakitkan seperti ini." ~K.G.P. Jatmiko Nareswara Adiningrat. Usai dialog terakhir terucap, kini yang tersisa hanya lambaian tangan--salam perpisahan terakhir sebelum Johan masuk ke dalam kapal uap yang akan membawanya pergi menuju negara kelahirannya. Meninggalkan Nusantara dengan berat hati, seorang diri tanpa keluarga yang menemani. Di balik pagar pembatas dek, mata Johan yang berkaca-kaca tak sedetik pun beralih. Tatapannya terpaku pada sosok Jatmiko yang berdiri tegak namun tampak mengecil ditelan jarak di dermaga. Tangis Johan pecah dalam diam, sebuah rintihan tanpa suara dari jiwa yang kehilangan segalanya akibat karma bangsanya sendiri. Bahkan cinta pun harus ia relakan menjadi abu. Sosok wanita pribumi yang menjadi muara hatinya kini harus ia pasrahkan dalam lindungan Jatmiko. Keadaan telah memaksa cinta itu bertekuk lutut pada realita yang kejam. 'Semoga di kehidupan lain, semesta menuliskan alur yang paling indah sebagai pengganti dari akhir yang hancur ini,' Johan membatin tepat saat peluit kapal meraung panjang, memutus sepihak kebersamaan mereka begitu kapal mulai berlayar. Helai rambut pirangnya kini bergerak acak tertiup semilir angin laut, dengan tangan gemetar ia melempar kenangan terakhir untuk Jatmiko dan wanita pribuminya. "SIMPAN! JANGAN LUPAKAN AKU!"
Puncak Komedi [NCT Dream] на JustSavina
JustSavina
  • WpView
    Прочтений 15,026
  • WpVote
    Голосов 1,336
  • WpPart
    Частей 28
"Tragedi adalah Komedi." Kalimat petuah itu, Mars masih ingat betul detailnya meski sewindu telah berlalu. Dimulai dari siapa yang memberi petuah, wajah orang itu, ciri fisik yang paling mencolok, hingga detik pertemuan terakhir mereka. Entah di mana dan kapan awal mula mereka bertemu, yang pasti 8 tahun lalu bukanlah yang pertama. Mars yakin, karena wajah itu tak asing baginya. 'Ada sebab mengapa kita dipertemukan. Entah untuk pengalaman, atau pembelajaran.' Batin Mars, lelaki itu melangkahkan kakinya dengan mantap menyusuri koridor bandara internasional Soekarno-Hatta. Pandangannya mengedar, menelisik setiap orang yang berlalu-lalang di sekitarnya guna mencari beberapa wajah yang familiar di ingatannya. "ABANG!" Mars lantas menoleh ke asal suara, menatap seseorang yang kini tengah melambai heboh dari jarak kurang lebih 77 meter dari tempatnya berada. Senyumannya merekah kala kedua matanya menangkap 5 sosok lain yang ikut melambai, segera ia berlari seraya menyeret kopernya dan memeluk 6 adiknya dengan erat. Lama tak jumpa, jujur ia menolak fakta jika adik-adiknya kini telah tumbuh menjadi pria dewasa yang tengah memasuki usia quarter life crisis. Satu sisi tak rela, sisi lain merasa bangga. Kerja kerasnya selama ini telah membuahkan hasil, tak sia-sia ia merantau banting tulang di kota orang selama bertahun-tahun. Bahkan rekor Bang Toyib saja bisa ia kalahkan, saking jarangnya ia pulang ke rumah. "Abang pulang." Ucap Mars dengan tangis harunya.
+ еще 22