LiamFlow1
- Reads 9,516
- Votes 8
- Parts 18
Sore hari di kamar, dua anak SMA sedang mengerjakan tugas. buku dan catatan rumus berserakan, ciri betapa seriusnya remaja laki-laki itu mengerjakan tugas sekolah yang seolah tak ada habisnya. keduanya sedang bergelut dengan soal-soal matematika yang menguras pikiran.
Adit merasa sudah muak, namun ia merasa sangat beruntung. Di sebelahnya, Galang tangannya tidak berhenti bergerak dan terus mencoret kertas, sesekali menjelaskan konsep yang sulit dengan bahasa yang jauh lebih mudah dimengerti daripada penjelasan guru di kelas.
Bagi Adit, Galang adalah sosok yang luar biasa dan seorang sahabat yang setia.
Di balik pintu yang sedikit terbuka, sebuah ketukan pelan terdengar. Rahayu, mamanya Adit atau biasa dipanggil Mbak Ayu, muncul dengan senyum ramahnya yang khas. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya bersih tanpa makeup, memancarkan keanggunan alami seorang wanita dewasa yang pandai merawat diri. Ia menatap kedua remaja itu dengan tatapan penuh syukur.
Galang mendongak, menunjukkan wajahnya sopan, wajah yang selalu berhasil membuat orang dewasa percaya padanya.
Mbak Ayu mengangguk-angguk kecil, hatinya merasa tenang. Sebagai ibu, tidak ada yang lebih membahagiakan selain melihat putranya memiliki teman yang bisa memberikan pengaruh positif. Ia merasa Galang adalah anak yang baik.
Adit kembali menunduk menatap bukunya, merasa tenang-tenang saja dengan situasi ini. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa saat Mbak Ayu berbalik, tatapan Galang tidak langsung kembali ke buku.
Selama beberapa saat, mata Galang terpaku pada tubuh bagian belakang Mbak Ayu, sebuah tatapan yang sangat jauh dari kata sopan.
Bagi Adit, Galang adalah sahabat sekaligus penolongnya. Galang pun menganggap Adit sebagai sahabatnya dengan tulus. Ia merasa Adit adalah anak yang menyenangkan dan menarik untuk dijadikan teman.
Namun, itu sebelum Galang menyadari bahwa rumah ini menyimpan sesuatu yang jauh lebih menarik daripada sekadar persahabatannya.