Lyyyyyxz_5
Murni karya sendiri, hadirnya karena gabut.
Gerimis malam itu menempel di kaca jendela kafe, menyamarkan lampu-lampu jalanan kota yang mulai sepi.
Di sudut ruangan, keheningan di antara mereka berdua terasa lebih pekat daripada kopi yang mulai mendingin.
Laki-laki itu meletakkan cangkirnya dengan hentakan kecil. Matanya lurus menatap lintasan emosi yang terkunci rapat di wajah gadis itu. Dia lelah menebak-nebak makna di balik setiap diamnya.
"Sumpah, kadang gue pengen, buka otak lo buat liat isinya apa?" Suara lelaki itu bergetar, sarat akan frustrasi yang sudah lama menumpuk. Tatapannya tajam menuntut kejelasan, seolah ingin menembus sekat tebal yang selalu gadis itu bangun.
Gadis itu tidak langsung menjawab. Dia hanya membalas tatapan itu dengan sepasang mata yang tampak lelah, namun luar biasa dalam. Ada kilat peringatan yang sunyi di sana.
"Jangan. Berantakan."
Kalimat itu diucapkan dengan nada datar, hampir berbisik. Namun, tatapan lelaki itu terkunci pada manik mata gadis itu, memperlihatkan sekilas kekacauan batin yang selama ini dia sembunyikan rapat-rapat. Dia tidak sedang bercanda; matanya memohon agar gadis itu tidak melangkah lebih jauh ke dalam teritorinya yang hancur.
Lelaki itu memajukan tubuhnya, menolak untuk mundur lagi seperti biasanya.
"Gue serius."
"Gue lebih serius."
Gadis itu menjawab tanpa berkedip sedikit pun. Suasana di antara mereka mendadak membeku. Dalam detik-detik yang panjang itu, tatapan mereka saling mengunci-sebuah pertarungan tanpa kata antara seseorang yang mendamba jawaban dan seseorang yang mati-matian melindungi luka agar tidak melukai orang lain.
Penasaran baca aja.