Hannylauryn17
- LECTURAS 2,411
- Votos 291
- Partes 7
"Kadang, hal paling menyakitkan dari sebuah pertemuan bukanlah perpisahan, melainkan saat kita saling menatap namun tidak lagi saling mengenali."
Ziva terbiasa hidup dalam kesunyian yang riuh. Baginya, dunia adalah tempat di mana ia harus terus berjalan meski langkahnya terasa berat. Ia menyimpan rahasianya rapat-rapat, di antara jemarinya yang selalu sibuk merajut hampa dinatara ingatan indah juga menyakitkan.
Lalu, semesta membawanya kembali pada Kavin.
Seseorang yang pernah menjadi pusat dari dunianya meski sebentar, kini berdiri sebagai orang asing yang paling jauh. Kavin adalah teka-teki yang kehilangan kepingannya, sosok yang lebih memilih berteman dengan dinginnya jarak seolah ia terjebak dalam ruang gelap sejak sebuah kejadian traumatis merenggut impian yang selama ini ia perjuangkan. Baginya, masa lalu hanyalah puing-puing kegagalan yang tak ingin ia sentuh kembali, termasuk sosok gadis yang selalu menatapnya dengan binar yang tak sanggup ia mengerti.
Di tengah kerumitan itu, hadir pula Karin. Sosok perempuan yang tampak begitu sempurna, kontras dengan Ziva yang penuh retakan. Karin adalah cerminan dari segala hal yang Ziva impikan, ia bersinar, utuh, dan memiliki posisi yang mungkin tak bisa digantikan di sisi Kavin sekarang. Ziva bahkan tidak bisa membencinya, karena Karin terlalu sempurna untuk dijadikan musuh, ia bagai pengingat pahit betapa buruknya Ziva.
Di antara mereka, ada Enzo. Seseorang yang hadir seperti sisa cahaya di ujung senja, hangat, menenangkan, namun menyadari bahwa hati yang ingin ia tuju mungkin tidak pernah benar-benar kosong.
Ini adalah tentang perjalanan mereka di antara ambisi, rahasia yang tersembunyi di balik tawa teman-teman lainnya, dan usaha untuk tetap utuh saat segalanya terasa runtuh. Ziva hanya punya satu pilihan: terus menunggu hujan menuliskan kembali bab yang telah terhapus, atau membiarkan bab itu tertutup selamanya.
Sebab di dunia ini, ada beberapa cerita yang memang diciptakan untuk diinga