Riin_1572
.Tanggal 1 Juni 2003. Bagi Maria Dewi, angka delapan belas bukanlah tanda kedewasaan yang dirayakan dengan gembira, melainkan tanda dimulainya tanggung jawab besar di pundaknya. Di tengah hamparan kebun coklat yang luas dan udara desa Lampung yang sejuk, Maria harus menyingkirkan segala keinginan masa mudanya. Ia sadar, sebagai anak keempat yang paling bisa diandalkan, dialah satu-satunya harapan bagi Ayah dan Ibu serta adik-adiknya yang masih membutuhkan biaya hidup dan sekolah.
Keputusan berat pun diambil: pergi merantau ke Jakarta. Meninggalkan kenyamanan rumah, pelukan orang tua, dan sosok Pak Udin-tetangga yang selalu memberi semangat dan nasihat tulus kepadanya. Kepergian Maria adalah langkah berani untuk mencari rezeki di kota besar yang konon keras dan penuh tantangan.
Namun, takdir ternyata punya rencana lain yang jauh lebih indah. Di Jakarta, di tengah hiruk-pikuk dan gedung-gedung tinggi, hidup orang-orang asing yang berjalan dalam alur cerita masing-masing. Belum ada yang tahu, bahwa pertemuan tak sengaja akan segera terjadi. Jalan hidup Maria dan orang-orang itu akan bersatu dalam satu babak kehidupan yang sama, membawa perubahan besar bagi mereka semua.
Ikuti jejak langkah Maria melawan rindu dan lelah, mencari mimpi sederhana demi keluarga. Sebuah kisah tentang keberanian merantau, tentang cinta yang tumbuh di tempat tak terduga, dan tentang pertemuan yang mengubah segalanya. Kisah nyata perjuangan hati, dalam Cerita Kita yang Tak Pernah Terbit.