saupeena
- Reads 1,654
- Votes 361
- Parts 7
Nadia mau cerai. Titik. Sekalipun besok Pasha mendadak menjadi suami paling teladan sealam raya, kali ini Nadia tidak akan mengubah keputusannya lagi.
Masalahnya, Nadia kesulitan menemukan jawaban paling kuat saat ditanya alasannya ingin bercerai. Alasan tersebut penting untuk dijadikan dasar gugatan. Pengadilan tidak akan menerima alasan abu-abu seperti: perceraian adalah cara Nadia memilih dirinya sendiri untuk pertama kalinya seumur hidup. Waduh, alasan macam apa itu? Yakin deh, belum apa-apa Nadia pasti disuruh introspeksi diri.
Asal tahu saja, merumuskan rencana perceraian seratus kali lipat lebih ruwet dibanding mengurus pernikahan. Maka dari itu, Nadia harus betul-betul mencari celahnya. Tapi, apa ya?
Perselisihan dan pertengkaran terus-menerus? Pasha pasti bisa menampik alasan ini. Mereka tidak berselisih sesering itu. Bagaimana mau sering berselisih, kalau bertemu saja jarang?
Penelantaran? Pasha memang jarang pulang, tapi nafkah untuk istri dan anak-anaknya tidak pernah absen, apalagi kurang. Kemungkinan besar pengadilan tidak akan menganggapnya sebagai penelantaran.
Perselingkuhan dan KDRT? Yang ini apalagi. Pasha bukan tipe pria seperti itu.
Di tengah usaha Nadia mencari segala macam cara agar perceraian mereka terealisasi secepat mungkin, Pasha sebaliknya. Pria itu menempuh semua jalan demi mempertahankan biduk rumah tangganya. Dia tidak akan melepaskan Nadia, cinta pertamanya.
Hingga, Pasha tiba di persimpangan. Dia sangat ingin menghabiskan waktu seumur hidup bersama Nadia, tapi sebagian dirinya tidak sanggup melihat Nadia tampak tersiksa menjalani ikatan pernikahan dengannya. Pasha harus memilih makna cinta yang ingin ia percaya; mengikat sekuat tenaga, atau justru melepaskan dengan lapang dada.