seselllllll
- Reads 29,554
- Votes 2,529
- Parts 20
"Mama... Papa... Rei janji bakal sembuh. Tapi jemput Rei, ya?"
Kalimat itu sudah seperti mantra yang diucapkan bibir pucat Rei Elvianno selama sepuluh tahun terakhir. Di sana, ia melihat anak-anak lain pulang dengan tawa lebar, menggandeng tangan orang tua mereka setelah dinyatakan sembuh. Sementara Rei? Ia hanya ditemani bau karbol yang tajam dan selang infus yang menusuk kulit pucatnya. Keluarga Elvianno menganggapnya "barang cacat".
Rei tersenyum pahit. Ia tahu. Ia bukan anak kecil bodoh lagi. Ia tahu ia telah dibuang. Namun, di sudut hatinya yang paling dalam, setitik harapan tetap ia pelihara. Ia ingin menunjukkan bahwa ia bisa sembuh. Ia ingin berguna.
Tahun demi tahun berlalu. Penyakit Leukemia Mielomonosit Juvenil itu akhirnya mencapai titik jenuh. Tubuh Rei semakin ringkih, seolah tulang-tulangnya hanya dilapisi selembar kertas tipis.
Malam itu, hujan turun dengan lebatnya. Rei menatap pintu kamar yang tertutup rapat, masih berharap pintu itu terbuka dan menampakkan sosok Mama atau Papa-nya. Sekali saja.
Tes.
Setetes air mata jatuh sebelum pandangannya mengabur. Dada Rei sesak, oksigen seolah enggan masuk ke paru-parunya.
Tit.. tit.. tit............
Bunyi nyaring dari monitor EKG membelah kesunyian malam. Garis di layar itu mendatar, menghilangkan irama kehidupan yang selama ini bertahan dengan paksa.
Cring..!!
Rei mengerjap. Langit-langit di atasnya bukan lagi beton kusam Rumah Sakit Cinta Kasih yang retak di sana-sini. Langit-langit ini putih bersih, dengan pencahayaan hangat yang lembut di mata.
Di sana, di samping ranjangnya yang empuk, seorang pria dewasa sedang terduduk di kursi kayu dengan kepala yang tertunduk lesu di atas lipatan tangannya di pinggir kasur.
"Rei? Kamu... kamu sudah sadar, Sayang?"
"Om... siapa?"