Brothership and Familyship
9 stories
ARSITEK PERADABAN  by blackcurrantbery
blackcurrantbery
  • WpView
    Reads 27,800
  • WpVote
    Votes 3,401
  • WpPart
    Parts 25
Alan sedang menulis di papan tulis, tangan gemetar saat mencoba menjelaskan materi sejarah. Tiba-tiba sesuatu menghantam kepalanya, dan penghapus jatuh ke lantai, diikuti tawa kecil dari beberapa siswa. Alan menoleh dan melihat Damar duduk santai di dekat jendela, kaki dinaikkan ke kursi, matanya menatapnya lurus. Tanpa menutupi rasa usilnya. "Damar, jangan begitu " suara Alan terdengar cemas. "Kenapa? Cuma penghapus " Damar menjawab datar, mengangkat bahu tanpa menyesal. Sebelum Alan sempat menegur lebih jauh, suara kursi terseret keras dari belakang kelas memotong semuanya. Semua mata menoleh. Raka berdiri dengan langkah pelan tapi berat, berjalan langsung ke Damar. Kelas hening saat Raka berhenti di depan mejanya. "Ambil," suara Raka rendah, menunjuk penghapus di lantai dekat kaki Alan. Damar menatapnya sebentar, lalu menatap Raka lagi. "Kalau nggak?" Tangan Raka mencengkeram kerah seragam Damar dengan cepat. Kursi Damar terdorong ke belakang, membuat Alan tersentak. "Raka, jangan" Raka menoleh sekilas ke arah Alan. "Diam." Alan langsung menutup mulut. Raka kembali menatap Damar dengan tajam. "Jangan sentuh apa pun yang ada di depan kelas." Damar menatap beberapa detik, lalu terkekeh pelan. Ia menunduk, mengambil penghapus dari lantai. Di belakang, Arvin hanya duduk bersandar di kursinya. Matanya mengikuti setiap gerakan, tenang, observatif, tanpa ikut bicara. Di bangku depan, Fariz memutar pulpen di jarinya, menatap Alan tanpa berkedip, berdiri perlahan dan berkata, "Pak Guru." Alan menoleh kaku. "Takut ya tadi?" Alan buru-buru menggeleng. "Ti-tidak..." Fariz tersenyum kecil, senyum yang aneh, seperti menyimpan maksud tersembunyi. "Tangan Bapak gemetar." Dari belakang kelas, suara Raka terdengar dingin " Duduk " Fariz melirik Raka sebentar. "Iya," gumamnya pelan sebelum kembali ke bangkunya. Tapi sebelum duduk, ia menatap Alan sekali lagi. Matanya menyipit. "Kalau ada yang ganggu lagi, gue mau lihat wajah panik pak guru lagi, lucu soalnya "
Saujana Kasih by blackcurrantbery
blackcurrantbery
  • WpView
    Reads 6,345
  • WpVote
    Votes 884
  • WpPart
    Parts 21
Senja turun di rumah yang tak pernah benar-benar sunyi. Vano baru menutup laptop ketika aroma jahe dan madu dari dapur mendahului munculnya Alfa. "Udah minum obat, kak?" suara lembut Alfa terdengar. Vano tersenyum tipis. "Belum. Nanti aja, bang " Alfa meletakkan cangkir, uapnya naik tipis. "Jangan telat makan. Kakak sejak tadi pegang laptop terus." Ia berdiri di belakang, memijat bahu Vano perlahan. Dari lorong terdengar suara lain. "Capek, kak?" Gema muncul, menempelkan pipinya ke lengan Vano, tangannya perlahan menyelip ke pinggang kakaknya. Tekanan pertama lembut, selanjutnya lebih dalam. Vano diam tak berkomentar, hanya mengencangkan rahang. Alfa menghentikan pijatan. "Gema, kamu belum makan?" "Sudah," jawab Gema, wajah kosong, tangannya masih di pinggang Vano. Bibirnya mendekat ke telinga kakaknya, lirih, "...jangan terlalu dekat sama Alfa, kak....: ".....nanti aku cemburu." Alfa tak mendengar, tapi melihat garis tipis di alis Vano menegang. Ia pergi ke dapur, dan cengkeraman Gema berubah, menarik Vano sedikit. "Kakak ngerti kan?" Vano menatap hangat. "Iya." Gema tersenyum miring, tangannya naik ke pipi Vano, lalu mengecup pipi Vano lembut tapi terasa seperti menandai kepemilikan. " Kalau ngerti, jangan buat aku cemburu," bisiknya.
SEMBILU ARUNIKA by blackcurrantbery
blackcurrantbery
  • WpView
    Reads 5,906
  • WpVote
    Votes 416
  • WpPart
    Parts 26
Ikbal selalu merasa hidupnya seperti kaca. Tak boleh retak. Tak boleh tergores. Tak boleh jatuh. Sejak kecil, dunia di sekelilingnya terasa terlalu hati-hati. Tangannya pernah ditepis saat mencoba ikut bermain sepak bola. Lututnya dibersihkan dengan panik hanya karena lecet kecil. Makanannya ditetapkan, jadwal hidupnya diatur. Tubuhnya dijaga seperti sesuatu yang mahal, atau mungkin rapuh. Ia mengira itu adalah cinta. Arlo dan Luna selalu tersenyum padanya dengan mata yang lelah. Putri, kakaknya selalu menggenggam tangannya terlalu lama, seolah takut kehilangan. Rumah mereka dipenuhi suara mesin medis dan doa-doa yang diucapkan pelan saat malam. Ikbal tumbuh dengan satu keyakinan sederhana, ia adalah anak yang beruntung karena masih sehat. Sampai suatu malam, saat hujan mengetuk jendela kamarnya seperti ingin membocorkan rahasia, ia menemukan map cokelat tersembunyi di laci yang tak pernah boleh ia buka. Di sana tertulis namanya. Disertai istilah-istilah medis yang dingin. Tapi, terdengar seperti perencanaan. Ia membaca ulang satu kalimat yang membuat dadanya terasa kosong, "Tujuan konsepsi, donor yang kompatibel." Untuk pertama kalinya, Ikbal tidak merasa seperti anak kesayangan lagi. Ia kini merasa seperti jawaban atas sebuah masalah. Dan yang paling menyakitkan bukanlah kenyataan bahwa ia diciptakan untuk menyelamatkan kakaknya. Melainkan kesadaran perlahan bahwa semua larangan, semua perhatian, semua pelukan, mungkin bukan untuk melindunginya. Melainkan untuk menjaga agar ia tetap utuh.
INSAN TERPASUNG by blackcurrantbery
blackcurrantbery
  • WpView
    Reads 21,970
  • WpVote
    Votes 1,874
  • WpPart
    Parts 35
Rumah itu terlalu sunyi untuk dua orang yang masih hidup. Sejak pemakaman orang tua mereka tiga bulan lalu, tak ada lagi suara tawa, tak ada lagi aroma kue dari dapur, tak ada lagi suara berat sang ayah yang biasa menggema memanggil nama mereka dari ruang kerja. Yang tersisa hanya detik jam dinding dan bunyi lembaran laporan keuangan yang dibalik tengah malam. Kini ia adalah direktur utama. Dan ia tidak pernah menginginkannya. Di belakangnya, suara langkah ringan terdengar. Rangga. Adiknya lebih muda tiga tahun, tapi sorot matanya lebih tua dari usia mereka berdua digabungkan. Rangga tak pernah menangis di pemakaman. Dia berdiri paling depan, menatap liang lahat dengan wajah kosong. "Abang bisa," katanya malam itu, saat Fajar gemetar memegang surat pengalihan saham. "Abang harus bisa." Rangga tak pernah benar-benar melepaskannya. Ketika GPS di ponselnya mati, Rangga tidak panik. Ia hanya menatap layar laptopnya, menelusuri sinyal lain, jam tangan pintar yang melingkar di pergelangan Fajar. Hadiah ulang tahun darinya. Pelacak yang tak pernah Fajar sadari fungsinya lebih dari sekadar pengingat detak jantung. Ia melakukan itu karena takut abangnya kembali " rusak" , dan Rangga benci memperbaiki sesuatu dua kali. Fajar akhirnya mengerti satu hal yang tak pernah dia sadari sejak ayah mereka meninggal,ia bukan lagi direktur utama. Ia adalah milik Rangga. Fajar sadar bahwa tekanan itu bukan tentang bisnis, bukan tentang saham atau perusahaan. Tekanan itu adalah tentang kepemilikan. Tentang adik yang kehilangan ayah dan ibu, lalu memutuskan bahwa satu-satunya cara agar dunia tidak runtuh lagi, adalah dengan mengendalikan satu-satunya keluarga yang tersisa.
LENGKARA HARSA (END) by blackcurrantbery
blackcurrantbery
  • WpView
    Reads 83,576
  • WpVote
    Votes 4,047
  • WpPart
    Parts 59
Aku bukan dia Mempunyai anak adalah salah satu anugrah bagi sepasang suami istri, anugrah yang harusnya dijaga dengan baik dan diperlakukan dengan baik pula. Namun, jika belum siap jangan perlihatkan ketidaksiapan itu, berusahalah untuk belajar dan sabar karena itu resikonya. Berlaku adil memang lah sangat susah, tapi jangan terlalu perlihatkan perlakukan tidak adil itu, mungkin kita sendiri tak merasakannya namun orang lain yang diperlakukan tidak adil itu sangat amat merasakannya. Ia Zidane, adek dari Zayyanda, mereka anak kembar tak identik, ia sebenarnya tak mempermasalahkan hidup di lingkungan yang tidak siap karena mempunyai anak, tapi perlakukan yang adil itu benar harus diperhatikan. Karena ia merasakan sakit karena ketidakadilan itu. " Zidan nggak salah, Zidan udah bilang jangan ikut main, abang tetap iku--" " TOLAK, dengar?, jangan ajak abang mu main, ngerti?, dia sakit Zidan..." *** Bugh " Saya menyuruh mu untuk menjaga anakku, bukan menyakitinya sialan..." " Mereka tidak bisa disatukan, pisahkan saja..." *** Bugh " Anak sialan, bangsat, kau apakan anak saya hah?" " Zidan salah apa?, Zidan nggak pernah ngajak abang main lagi, Zidan nggak ambil mainan abang, Zidan,... nggak.... minta A-ayah sama Ibu abang lagi ..." *** " Om, Zidan salah ya kalau zidan memang lomba basket kemaren?, soalnya Ayah marah, nggak terima Zidane menang....." " Om, ulang tahun ini, Zidan dapat sepeda kayak abang juga nggak ya?, kan zidan nggak pernah dapat hadiah, kalau zidan minta sepeda boleh nggak ya om?" " Om, badan Zidan sakit semua, padahal kan abang jatuh sendiri, kenapa ayah marah sama Zidan?, Zidan juga nggak satu sekolah lagi sama abang..." " Maafin om, " Ia hanya satpam di rumah itu, ia tak mempunyai hak untuk ikut campur ** BUGH " PERGI DARI RUMAH INI, JANGAN PERNAH SEKALI LAGI KAU INJAKKAN KAKI HINA MU ITU DI RUMAH INI... PERGI KAU ANAK SIALAN" Dan akhirnya aku diusir dari rumah 12 April 2025
DeKaNa (END) by blackcurrantbery
blackcurrantbery
  • WpView
    Reads 132,831
  • WpVote
    Votes 8,067
  • WpPart
    Parts 66
BUKAN BL ATAU SEBAGAINYA, INI BROTHERSHIP, KALAU SAMPAI ADA YANG BILANG BL. GUE JAMBAK🙏🏻🙏🏻🙏🏻 . . . Bagi Devan, Kaivan itu seperti ember bocor, congor nggak pernah di jaga, somplak, dan menyedihkan, mungkin?. Sedangkan Naren, baginya anak bungsu Papanya itu anak pintar, cerdas, bertanggung jawab, dan pembohong. Bagi Kaivan, Devan itu orang blakbakan,menganggu, aneh, sinis, sok,dan er-- menakutkan?, Sedangkan Naren, orangnya sok cool, pedas, sok paling sempurna, dan emm-- sedikit kejam Bagi Naren, Kaivan itu orangnya songong, tak tahu aturan, urakan, dan mulutnya persis kayak cewek. Dan baginya, Devan itu orangnya sinis, sok keren, dan anak Papa. Tapi, itu hanya sementara saja " BISA DIAM NGGAK LO BREGSEK ? " " Jadi lo bisa mikirkan, kalau mau tinggal sama gue harus gimana?" " LO GILA, LO GILAAA " " Ya gue gila "..... Khaisar Walau udah end, tetap vote ya, hargai penulis Untuk menjaga kesejahteraan bersama, ayoo voteee jangan jadi pembaca gelap hehehe . . . . BUKAN PLAGIAT ATAU APA, AKUN PERTAMA LUPA SANDI, JADI BUAT AKUN LAGI Jangan lupa tinggalin jejak ya guys jangan jadi pembaca gelap
ADIKARA ELUSIF (END) by blackcurrantbery
blackcurrantbery
  • WpView
    Reads 79,097
  • WpVote
    Votes 5,198
  • WpPart
    Parts 58
Baca DeKaNa terlebih dahulu, ini S2 nya DeKaNa🔥 "M-maksudnya apa?" Ekspresi wajah yang semula terlihat senang berganti menjadi rawut wajah yang amat tidak disukai, seolah perubahan mimik wajah mempengaruhi suasana hati sang pemilik Perlahan sudut bibirnya ketarik ke pinggir membentuk lekungan senyuman yang terlihat menyeramkan bagi remaja yang berdiri di hadapannya, bahkan bola matanya terlihat bergetar melihat apa yang tengah terjadi di hadapannya. "Hanya seminggu" Kakinya perlahan melangkah mendekati remaja yang sudah membeku di tempat itu, mengayunkan tangannya untuk mengusap puncak kepala yang lebih muda "Sayang sekali, Khai nggak panggil Ayah-" Plak Ia menatap tangannya kemudian menatap anak yang lebih muda di hadapannya dengan alis mata terangkat, berani, sangat berani "L-lo gila" "Lo bawa gue kemana hah anjing?" Ia memejamkan matanya, sudah seminggu ini hatinya berbunga-bunga, namun sekarang api neraka kembali membakar hatinya mendengar lontaran perkataan dari anak muda yang ada di hadapannya. Srett "Kenapa lo diam aja hah?, jawab!, lo bawa kemana gue hah?" Teriaknya dengan nafas tersenggal-senggal karena perasaan marah. Ia kembali tersenyum, mencoba mengusap puncak kepala itu namun tepisan kembali dirinya dapat, oke cukup, ia sudah sangat sabar kali ini, "Askar ternyata nggak guna" Perlahan kaki itu mendekati remaja itu, lalu mengusap paksa kepala itu dengan kuat, dan dalam sekali tarikan ia berhasil membuat tulang tengkorak itu bersentuhan kasar dengan dinding rumah kokoh miliknya "Lo manja banget ya Kai, semua harus gue yang turun tangan" Ucapnya sembari menyeringai melihat ekspresi wajah Kaivan yang terlihat kesakitan sekaligus marah karena tidak bisa melawan.Tubuh itu jatuh telentang di lantai, dan tanpa belas kasihnya, ia menaruh telapak kakinya di atas dada Kaivan yang seketika membuat anak itu meringis sakit karena tak mampu menahan rasa sakit lagi "A-abang" "Kalau udah kek gini, baru manis diliat" 19 April 25
+21 more
RE-SILIENCE (END) by blackcurrantbery
blackcurrantbery
  • WpView
    Reads 20,328
  • WpVote
    Votes 2,044
  • WpPart
    Parts 50
Ia kira hidupnya akan berjalan mulus saja tanpa ada gangguan yang membuat jalan hidupnya berkerikil, ternyata kehidupan di Sekolah Menengah Atasnya, di warnai kegaduhan yang membuat Ibunya sering marah tidak jelas kepadanya Ia Kaven, anak dari Ibu Adinda, yang mana wanita itu sebentar lagi akan menikah dengan pria yang katanya teman SMA nya, ya... kalau itu membuatnya senang apa boleh buat, lagian Ibunya sudah lama menjanda setelah di tinggal nikah sama Ayah Tapi, tapi nih ya Ibu mau nikah sama pria yang anaknya musuh bebuyutannya, anak SMA TUNAS BANGSA yang sering kali ngajak ribut ia dan teman teman SMA MERAH PUTIH, ngotak nggak?, nggak cok!. Masa iya, tiba tiba sodaraan sama anak yang buat jalan hidupnya bergelombang . Hidupnya ini normal saja, mau ada masalah atau tidak hidupnya ini ya begitu saja, Ayah punya restoran besar dan penghasilan cukup untuk membiayai dirinya yang tak banyak pengeluaran ini, tapi, ada satu hal yang seru dalam hidupnya, yaitu menganggu anak SMA MERAH PUTIH, walau sering di sebut SMA tetanggaan nyatanya tidak setenggaan itu, jarak SMA kami cukup berjauhan, hanya saja ada jalan tikus yang membuat SMA kami berdekatan. Ia Ryanza, anak bapak Rafa yang terlihat sudah uring uringan melihat teman temannya tebar keromantisan di depan Ayahnya yang sudah lama menduda karena di tinggal istri meninggal Ia mah iya iya aja pas Ayah tanya dia mau nikah lagi, terserah dia mah, asal jangan buat dirinya terlibat banget, tapi, ia baru tahu kalau wanita yang bakal di nikahin Ayah itu Ibu dari anak curut dari SMA MERAH PUTIH yang sering natangin dirinya baku hantam. Mood nya hancur gitu aja, maksud Ayahnya apa?, apa Ayahnya tidak bisa memilih wanita lain?, aagh~ buat hatinya membakar saja . Tapi bukan itu masalahnya, masa lalu menghantui masa sekarang tidaklah baik, obsesi yang tidak masuk akal membuat kehidupan pecah begitu saja " Lo yang buat gue kayak gini Ven, kalau gue nggak bisa dekat sama lo,lebih baik lo terus sendiri " " Maaf "