Rendra_Asmaraloka
- Reads 5,862
- Votes 26
- Parts 4
Tiba-tiba, Pak Tejo melakukan sesuatu yang mengejutkan. Ia meraih batangnya yang masih lemas, mengarahkannya ke mulut Hany. Hany menatapnya bingung.
"Bu, aku... aku mau kencing," Pak Tejo berkata, suaranya sedikit malu.
Hany terdiam. Kencing? Di mulutnya? Itu adalah sesuatu yang tidak pernah ia duga.
"Tidak, Tejo. Jangan gila," Hany menolak, wajahnya sedikit mengeras.
"Sebentar saja, Bu," Pak Tejo memohon, matanya memancarkan hasrat yang aneh. "Aku janji sebentar saja."
Hany ragu. Ini melampaui batas yang ia bayangkan. Namun, ada sesuatu dalam tatapan Pak Tejo yang membuatnya penasaran. Keinginan untuk mencoba sesuatu yang benar-benar baru, yang lebih ekstrem.
"Baiklah," Hany akhirnya setuju, suaranya kecil. "Tapi jangan banyak-banyak."
Pak Tejo tersenyum penuh kemenangan. Ia mengarahkan ujung batangnya yang masih lembek ke mulut Hany. Hany membuka mulutnya, sedikit khawatir.
Lalu, Pak Tejo mulai mengencingi mulut Hany. Cairan hangat mengalir masuk, rasanya sedikit pahit dan berbau pesing.