chaa_lilyyay's Reading List
1 história
Senyum Terakhir Senja de chaa_lilyyay
chaa_lilyyay
  • WpView
    Leituras 70
  • WpVote
    Votos 30
  • WpPart
    Capítulos 5
"Mbak Senja suka sekali bunga matahari. Jika nanti kalian merindukan Mbak, cukup lihat/beli bunga matahari. Anggap saja bunga itu adalah Mbak yang selalu menemani kalian. Mbak tidak apa-apa harus mengubur mimpi sendiri demi kalian, yang penting Mbak bisa melihat kalian sukses dan meraih mimpi kalian nanti." - Senja Nirmala ​Di sebuah rumah kayu tua yang selalu berderik, ada mimpi yang sengaja dikubur demi masa depan orang lain. ​Senja Nirmala adalah tiang penyangga yang dipaksa berdiri tegak, meski punggungnya sendiri nyaris patah menahan beban keluarga. Setiap pagi, ia memutar radio tua hanya untuk menyamarkan isak tangis yang tertahan di dapur. Baginya, kebahagiaan adik-adiknya adalah segalanya, meskipun itu berarti ia harus merelakan senyumnya sendiri perlahan padam. ​Langit Pradana tahu, setiap lembar buku yang ia baca adalah keringat Senja yang tergadai. Sementara Raga Adikara, sang mentari kecil, hanya tahu dunia ini indah berkat pelukan kakaknya. Di tengah badai rumah tangga yang tak pernah reda, Nenek Wening hadir sebagai satu-satunya tempat bersandar, ditemani Sora seekor kucing oranye yang menjadi saksi bisu setiap rahasia yang disimpan rapat di balik dinding kayu tua. ​Ini adalah kisah tentang pengabdian yang sunyi, tentang seorang gadis yang perlahan kehilangan dirinya sendiri di tengah tuntutan yang tak berujung. Senja berusaha tetap tegar, namun seberapa kuat ia menahan retakan di pundaknya sebelum semuanya runtuh dan ia memilih untuk menyongsong tenang yang selama ini ia cari? ​"Tugas Mbak sudah selesai, Mbak pamit, ya? Maaf kalau Mbak harus pergi sebelum bisa melihat kalian sukses. Tapi percayalah, di setiap bunga matahari yang tumbuh, Mbak selalu ada di sana, menatap kalian dengan perasaan yang sangat bangga. Ibu, Bapak... Senja sudah tidak kuat untuk menanggung semuanya. Senja sudah memaafkannya dari lama. Terima kasih, Pak, Bu... Terima kasih, Langit, Raga." - Senja Nirmala sebelum pergi