suroyyanurlaily
- Reads 1,365
- Votes 135
- Parts 21
"Jika suatu hari kami berjalan sendiri-sendiri, semoga kenangan ini tetap pulang ke tempat yang sama."
kisah tentang delapan remaja yang mencoba mengisi waktu dengan kenangan, di tengah kenyataan bahwa salah satu dari mereka hanya memiliki tujuh bulan untuk hidup.
Dengan sebuah wishlist sederhana tentang hal-hal kecil yang belum sempat dirasakan. Dan mereka memilih untuk tetap bersama, tertawa, bertengkar, dan saling menjaga, meski dibayangi rasa takut kehilangan.
Namun, tanpa diketahui oleh yang lain, waktu tidak berjalan dengan cara yang sama bagi salah satu dari mereka. Hari yang sama terus berulang, perrcakapan yang sama terjadi kembali, tawa yang sama terdengar lagi, dan kehilangan itu... selalu terulang.
Ia mengingat semuanya. Sudah hampir seratus kali ia mencoba, seratus kali ia mengulang hari yang sama, seratus kali ia mencari cara untuk mengubah akhir agar sahabatnya tetap hidup.
Namun, setiap usaha selalu berakhir dengan hasil yang sama. Seiring berjalannya waktu, yang berubah bukan lagi peristiwa yang terjadi, melainkan cara ia memandang hidup, kebahagiaan, dan arti kebersamaan.
Ia mulai menyadari bahwa ini bukan hanya tentang bagaimana menyelamatkan satu orang, tetapi juga tentang bagaimana bertahan ketika harus menghadapi kehilangan yang sama berulang kali.
Sementara itu, waktu bagi yang lain tetap berjalan. Pada akhirnya, ini bukan sekadar cerita tentang waktu yang berulang, tetapi tentang penerimaan bahwa tidak semua hal dapat diubah.
Mereka mungkin bukan bintang yang bersinar dari kejauhan, melainkan bulan yang memilih untuk tetap tinggal, menemani, dan menerangi meskipun mengetahui bahwa waktunya terbatas.
"Bagiku, kamu bukan bintang, tapi bulannya."
Dan di antara seratus pengulangan itu, ada satu hal yang tidak pernah berubah-
"Aku sedih, karena tidak bisa tumbuh dewasa bersama kalian."