RECOMMENDED! (my friend's)
2 stories
Senja Terakhir Untuk Sora  by cheryberies1
cheryberies1
  • WpView
    Reads 26
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 2
"Jika kalian menolak jadi tempatku berteduh, lalu di dunia seluas ini, pintu mana lagi yang akan kubuka untuk pulang?"-Sora. ●●● Sora rasa, hidupnya ya bakal begini-begini saja. Waktu cuma lewat tanpa arti. Sora selalu dicekoki omongan orang tuanya kalau dunia luar itu jahat, jadi ia terjebak di dunianya sendiri. ​Sudah 15 tahun ia hidup, entah untuk apa. Tubuhnya kurus kering, nggak bisa apa-apa. Teman satu-satunya cuma ponsel di tangan. Sora benar-benar nggak habis pikir sama orang tuanya; kelakuan mereka selalu nggak masuk akal dan nggak ada gunanya. ​Dari kecil, pemandangan sehari-hari Sora cuma narkoba, obat-obatan terlarang, alkohol, sama rokok. Sora pengin banget nyetop mereka, tapi mau gimana? Nyalinya ciut, ia nggak punya keberanian sedikit pun buat ngelawan. ​Setiap hari, Sora cuma jadi samsak hidup. Kalau ayahnya lagi kalah judi online, Sora yang kena imbasnya. Wajah dan badannya sering jadi pelampiasan amarah ayahnya yang nggak jelas. Belum lagi ibunya, yang hobinya bawa pria lebih muda ke rumah. Ibu royal banget kasih uang ke lelaki itu, seolah mereka kaya raya, padahal aslinya morat-marit. ​Sora sering bingung, bagaimana bisa mereka hidup setenang itu seolah nggak punya dosa besar setelah menghabisi nyawa kakaknya sendiri? Padahal dulu, cuma kakaknya yang jadi teman satu-satunya buat Sora. ​Mereka benar-benar nggak punya hati. ​Bahkan selama 15 tahun hidup, Sora nggak pernah sekalipun menginjakkan kaki di sekolah. Tapi, dunianya mendadak berubah saat ayahnya tiba-tiba menawarinya untuk sekolah.
LITTLE BITCH  by cheryberies1
cheryberies1
  • WpView
    Reads 85
  • WpVote
    Votes 22
  • WpPart
    Parts 4
Di balik gemerlap itu, Valerie Luisa Marlene Ilsa berdiri diam, sosoknya yang memikat dengan paras jelita bak kembang desa yang terperangkap di kerasnya aspal kota. Meski dikenal sebagai pemuas nafsu bagi pria-pria yang melintas, kebaikan hatinya tetap tulus dan murni, kontras dengan kehidupan malam yang kelam. Kecantikannya yang membius bukan hanya sekadar rupa, melainkan pancaran kelembutan yang ia berikan kepada siapa pun, menjadikannya anomali yang paling dicari sekaligus disayangkan di tengah hiruk-pikuk yang tak pernah tidur. Di tengah riuhnya bar, di antara kepulan asap rokok dan tawa rendah para pria yang mendambakannya, Valerie hanyalah sebuah raga yang kehilangan jiwanya. Ia duduk terdiam, jemarinya perlahan memutar tangkai gelas wine-gerakan repetitif yang ia lakukan untuk menutupi hampa di dadanya. Senyum tipis terukir di bibirnya, sebuah topeng sempurna yang ia pakai agar terlihat seolah menikmati semua ini. Padahal, setiap serat otot di tubuhnya menjerit karena lelah. Tiba-tiba, suasana di sekitar meja Valerie seolah membeku. Seorang pria muncul dari keremangan, melangkah dengan tenang dalam balutan kemeja hitam yang pas di tubuh dan celana senada. Ia tidak membawa kebisingan, melainkan aura dingin yang tajam. ​Pria itu berhenti tepat di depan meja Valerie. Jarak di antara mereka menipis hingga napas mereka seolah bisa saling bersentuhan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia mengulurkan tangannya-sebuah undangan yang terasa seperti takdir. ​Valerie tertegun sejenak, namun sesuatu dalam tatapan pria itu menghipnotisnya. Saat jemari dingin Valerie menyentuh telapak tangan pria itu, ia merasakan sebuah tarikan yang ganjil. Begitu genggaman itu terpaut, dunia Valerie tidak lagi sama. Retakan tercipta di atas realitasnya yang lama, perlahan hancur untuk digantikan oleh sesuatu yang baru-sebuah perubahan drastis 180 derajat yang akan menyeretnya ke tempat di mana cahaya bar itu tak lagi bisa menjangkaunya.