Linnotscaryanymore
- Reads 2,176
- Votes 570
- Parts 33
Catatan:
•) No BL
•) Banyak typo
Terlihat seorang anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun. Namanya Ice. Penampilannya sungguh memilukan, pakaiannya lusuh dan kotor, kulitnya tampak pucat dan kurus kering seolah tak pernah mendapat perhatian atau kasih sayang. Namun, hal yang paling menyayat hati adalah kedua matanya, berwarna biru muda yang indah, namun tampak kosong, datar, dan sama sekali tak memancarkan binar kehidupan. Tak ada senyum, tak ada air mata, hanya tatapan kaku yang menatap lurus ke arah jalan raya di hadapannya.
Sampai pada suatu malam, suasana sepi itu berubah. Melintaslah sebuah keluarga yang hangat dan penuh tawa. Di tengah mereka ada seorang anak laki-laki seusianya yang bernama Blaze. Saat berjalan, pandangan Blaze tertuju tepat pada sosok diam yang terlihat sendirian. Penasaran dan terlalu bersemangat untuk menyapa, ia tiba-tiba berlari mendahului keluarganya, melesat masuk ke tengah jalan raya yang ramai tanpa memikirkan bahaya.
Namun sebelum tertabrak, sebuah dorongan kuat tiba-tiba mendorong Blaze ke arah yang aman. Blaze akhirnya melihat dengan jelas keadaan anak yang telah menolongnya itu, betapa mengenaskannya nasibnya, betapa dingin dan sepinya raut wajahnya, dan betapa rapuhnya sosok yang baru saja mempertaruhkan dirinya demi orang asing. Hati kecil Blaze tersentuh mendalam melihat kekosongan di mata biru muda itu.
Sejak hari itu, Blaze bertekad bulat. Ia tak mau membiarkan Ice sendirian. Dengan dukungan keluarganya, Blaze mengajak Ice untuk pulang, untuk menjadi bagian dari rumah dan keluarga mereka. Perlahan namun pasti, cahaya yang dibawa oleh Blaze mulai merembes masuk ke dalam kekosongan hati Ice. Hari-hari yang dulu kelabu dan diam, kini perlahan dipenuhi tawa, kehangatan, dan kehadiran orang yang tulus. Meski luka masa lalu takkan hilang begitu saja, hidup Ice mulai berubah menjadi jauh lebih baik, karena di ujung kesepiannya, ia telah menemukan cahaya yang tak akan pernah membiarkannya gelap lagi.