astroST7
- Прочтений 575
- Голосов 136
- Частей 9
Lautan kegelapan dalam jiwa Retak'ka terasa kental dan mencekam. Dahulu, Solar bersinar dengan kebanggaan di sana, mengira ia telah menemukan inang yang ambisius dan tak tergoyahkan. Namun, kebanggaan itu membusuk menjadi kengerian saat ia menyaksikan tuannya berubah menjadi monster serakah. Retak'ka bukan lagi pahlawan, melainkan lubang hitam yang menelan segalanya. Dari sudut kesadaran yang gelap, Solar membeku menatap kelima cahaya yang terperangkap bersamanya. Pemandangan itu adalah mimpi buruk abadi.
Thorn meringkuk dalam kesedihan yang merobek sukma. Taufan berkedip liar, nyaris gila karena kehilangan kebebasan udaranya. Ice menatapnya dengan kedinginan yang penuh penghinaan. Blaze memancarkan amarah yang membakar, seolah dendamnya sanggup menghancurkan segalanya.
Namun, yang paling menghancurkan Solar adalah Halilintar. Tatapan merahnya setajam belati petir, menghakimi Solar dengan pesan bisu: "𝑲𝒂𝒖 𝒂𝒅𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒂𝒘𝒂𝒍 𝒃𝒆𝒏𝒄𝒂𝒏𝒂 𝒊𝒏𝒊. 𝑲𝒂𝒖𝒍𝒂𝒉 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒆𝒓𝒊𝒏𝒚𝒂 𝒌𝒆𝒌𝒖𝒂𝒕𝒂𝒏 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒅𝒊 𝒔𝒆𝒓𝒂𝒌𝒂𝒉." Solar merasa kotor. Ia merasa menjadi akar dari segala dosa Retak'ka.
Kehancuran itu akhirnya datang saat Hangkasa menumbangkan Retak'ka. Solar merasakan jiwanya terseret paksa keluar, terhisap ke dalam Power Sphera kuning bersama enam elemental lainnya-termasuk Gempa yang baru saja bergabung. Dalam kelelahan jiwa yang hebat, Solar tenggelam dalam hibernasi panjang, berharap semua duka ini sirna.
Klik.
Solar terjaga, terlempar dari kehampaan dingin ke raga baru yang hangat. Sinar mentari membasuh kamar kayu beraroma cokelat-sebuah "rumah" yang terlalu asing dibanding istana beku Retak'ka. Meski tenang, jantung Solar berpacu hebat. Di balik kilau itu, matanya menyimpan trauma dalam.
Disclaimer:
1. No LGBT: Murni persaudaraan (platonic).
2. Tema: Pemulihan Solar