Niroar
Jepretan-jepretan kamera menumpuk menjadi satu, berisikan bermacam-macam memori yang dialami.
Patriarki tidak hilang bahkan sampai saat ini. Banyak pria mengaku sebagai 'tameng keluarga' namun nyatanya mereka hanyalah benalu keluarga. Banyak pria diluar sana memperlakukan wanita bagaikan pembantu tak digaji, diperlakukan layaknya hewan yang harus menuruti kemauan majikan.
Mahluk menjijikkan seperti mereka, tidak sederajat dengan kotoran ditempat sampah.
Orang tua mengkontrol anak mereka, tidak memberikan kebebasan, overprotektif.
Orang tua memperjual belikan anak mereka, orang tua melecehkan anak mereka, sungguh miris.
Usia anak belum mencapai 18 tahun, namun takdir memaksa anak sekecil itu untuk menjadi dewasa.
Dunia luar, dunia maya, segala sesuatu yang berhubungan dengan 'interaksi antarmanusia' sangat membosankan bagi ketujuh remaja hebat tersebut.
Tetapi, waktu akan terus berjalan, kamera akan terus merekam setiap peristiwa dalam hidup.
Maka dari itu, seiring berjalannya waktu, berinteraksi dengan teman mulai terasa menyenangkan bagi mereka.
Tanpa memandang status, usia, kebersamaan mereka bagaikan sebuah bangunan yang begitu kokoh, sehingga tak dapat dihancurkan oleh gempa sekalipun.