Dipatrenggono's Reading List
2 stories
Surya Kala by Dipatrenggono
Dipatrenggono
  • WpView
    Reads 370
  • WpVote
    Votes 116
  • WpPart
    Parts 57
Karya Original dari Dipa trenggono. mengisahkan dua perjalanan yang bergerak sejajar dalam rentang waktu berbeda, namun perlahan mengarah pada satu muara yang sama. Di satu jalur, Luki dan Pura menempuh pengembaraan sunyi menelusuri jejak retakan waktu, sebuah peristiwa ganjil yang meninggalkan bekas pada tanah, ingatan, dan sejarah manusia. Setiap langkah membawa mereka pada serpihan masa lalu yang tidak sepenuhnya mati dan masa depan yang belum benar-benar lahir. Mereka tidak mencari keajaiban, melainkan jawaban. Namun semakin dalam penyelidikan dilakukan, semakin jelas bahwa retakan itu bukan sekadar luka alam, melainkan akibat pilihan manusia pada masa silam. Di jalur lain, Naraseta melangkah sebagai penuntun bagi seorang pemuda bernama Iswarayana. Tanpa gegap gempita dan tanpa janji kemuliaan, Iswarayana diperkenalkan pada dunia persilatan yang keras, penuh siasat, dan sarat konsekuensi. Naraseta tidak mengajari jalan pintas, hanya menunjukkan cara berdiri tegak saat pilihan menjadi sempit. Setiap pertemuan, setiap pertarungan, membentuk Iswarayana sedikit demi sedikit, bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai manusia yang harus memikul akibat dari langkahnya sendiri. Dua garis waktu ini berjalan terpisah, namun diikat oleh satu tujuan yang sama: menutup lingkaran sebab dan akibat yang telah lama dibiarkan terbuka. Ketika masa lalu menuntut pertanggungjawaban dan masa kini dipaksa memilih arah, pertemuan keduanya menjadi keniscayaan. Sebuah kisah perjalanan, tentang bimbingan dan pencarian, tentang waktu yang retak dan manusia yang mencoba memperbaikinya, meski harus membayar dengan harga yang tidak ringan.
Yama - Kelam Yang Disambut by Dipatrenggono
Dipatrenggono
  • WpView
    Reads 324
  • WpVote
    Votes 82
  • WpPart
    Parts 19
YAMA Jogja, 1983. Kota masih menyimpan bayangan. Di sudut-sudut Pajeksan yang basah oleh sunyi dan darah tak tercatat, seorang lelaki tanpa jubah muncul dari lorong gelap-membawa tas ransel, jaket lusuh, dan tatapan yang tak bisa dibaca. Namanya Arno. Dulu preman jalanan. Sekarang... bukan siapa-siapa. Tapi sejak retakan dimensi tertutup empat tahun lalu, ia tak lagi sendiri. Sesuatu dari dunia lain hidup dalam bayangannya-entitas purba dari planet tanpa cahaya. Ia tidak bisa pulang. Dan Arno... tak bisa lepas. Kini, dengan kekuatan menembus bayangan dan tubuh sekeras besi, Arno menjadi alat keadilan yang tak punya aturan. Menghukum tanpa ampun, memburu yang tersembunyi, dan meninggalkan jejak bisu: sebuah nama, tergores di dinding bata... YAMA. Ia bukan pahlawan. Ia bukan iblis. Ia adalah bayangan yang tidak bisa dibunuh.