aylaauv
- Reads 1,426
- Votes 169
- Parts 13
Saka Abiyaksa dan Ganis Ananta adalah bukti nyata bahwa waktu mampu membunuh keakraban tanpa perlu pertikaian. Dahulu, mereka adalah bayangan satu sama lain yang tak terpisahkan di bawah rimbun pohon jati Desa Malakasari. Namun kini, desa itu menjadi saksi bagaimana keduanya tumbuh menjadi dua orang asing yang hanya saling melempar tatap sekilas saat berpapasan di pematang sawah. Tidak ada dendam, tidak ada luka lama. Mereka hanya kehilangan cara untuk bicara setelah kedewasaan membangun tembok tinggi di antara mereka.
Kehidupan tenang dalam keasingan itu terusik saat siklus adat dua puluh tahunan kembali berputar. Sebagai pemuda dengan garis keturunan murni, Saka dan Ganis terikat kewajiban sakral untuk menjalani ritual Ngandeg Syarat. Adat kuno menuntut mereka menetap di sebuah gubuk tua di puncak bukit selama empat puluh malam penuh demi keselamatan desa.
Di tengah dinginnya kabut pegunungan dan sunyinya malam, ruang sempit itu memaksa mereka kembali bersisian. Saka yang pendiam dan Ganis yang kaku harus menghadapi situasi paling tidak nyaman dalam hidup mereka, terjebak bersama seseorang yang dulu sangat mereka kenal, namun kini tidak lebih dari sekedar orang asing yang berbagi oksigen di bawah naungan tradisi kuno desa.
⚠️ WARNING BXB, Gay, Homo, Boylove, Bl
Cerita ini mengandung unsur Male Pregnancy (Mpreg) yang dikemas dalam balutan mitos dan tradisi lokal. Bagi pembaca yang kurang nyaman dengan tema tersebut, mohon bijak dalam memilih bacaan.
Happy reading!