prtygirl
- Membaca 7,506
- Suara 709
- Bagian 20
Lagi-lagi, nama Keenan Alvaro ada di nomor urut satu. Dan tepat di bawahnya, ada namanya: Zoya Paramitha.
"Gue denger lo belajar sampe jam dua pagi buat ujian ini."
Suara bariton yang tenang itu membuat Zoya berjingkat.
Ia menoleh dan mendapati Keenan bersandar di pilar, melipat tangan di depan dada dengan seragam yang masih rapi-berbanding terbalik dengan Zoya yang tampak kacau.
Zoya berbalik, langkahnya menghentak mendekati Keenan. Ia mencengkeram kerah seragam cowok itu sampai wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.
"Bisa nggak sih, sehariii aja lo nggak ada di depan gue?!" sentak Zoya dengan suara bergetar karena emosi.
"Gue capek, Nan! Gue capek dibandingin sama lo, gue capek liat muka lo di setiap kemenangan gue yang gagal!"
Zoya mengira Keenan akan membalas dengan sindiran tajam atau tawa meremehkan seperti biasanya. Tapi, Keenan diam.
Cowok itu tidak mundur.
Ia justru sedikit menunduk, membiarkan Zoya mencengkeram kerahnya semakin kuat. Matanya yang gelap menatap Zoya dengan sangat intens, seolah sedang membaca setiap inci kemarahan di wajah cewek itu.
Keenan mengulurkan tangan, bukan untuk melepaskan cengkeraman Zoya, melainkan untuk menyelipkan sehelai rambut Zoya yang berantakan ke belakang telinga.
Gerakannya sangat pelan, sangat tenang, sampai Zoya merasa udara di sekitarnya mendadak menipis.
"Gue nggak pernah minta lo buat ngejar gue, Zoy," bisik Keenan, suaranya rendah dan serak, masuk tepat ke indra pendengar Zoya.
Keenan maju satu langkah lagi, membuat jarak di antara mereka benar-benar hilang.
Zoya bisa merasakan detak jantung Keenan yang stabil, sangat kontras dengan jantungnya yang menggila.
"Kalo lo nggak suka gue ada di depan lo..." Keenan menjeda kalimatnya, tatapannya turun ke bibir Zoya sekilas sebelum kembali ke matanya.
"Kenapa nggak lo tarik gue supaya kita bisa jalan sejajar? Gue bakal berhenti lari kalo itu lo yang minta."
---