dreamjane07
- Reads 3,610
- Votes 430
- Parts 30
Meski hari-harinya penuh luka, ia tetap menyimpan satu keyakinan yang tak pernah ia ucapkan. Bahwa bagi dirinya, mereka adalah segalanya. Permata hatinya. Orang tua yang tak sempurna, tapi tetap ia cintai tanpa syarat. Ia menggenggam erat bayang-bayang kebahagiaan yang tak pernah ada, seolah jika ia cukup bersabar, cinta itu akan datang.
Ia mencintai mereka lebih dari dirinya sendiri. Bahkan ketika tak ada satupun pelukan yang membalas cintanya, ia tetap berharap.
Hingga pada suatu malam, saat ia sudah terlalu lelah dan tak sanggup lagi menampung luka, ia membuat sebuah permohonan. Bahwa ia rela mengorbankan nyawanya, asalkan pertengkaran dan luka di antara kedua orang tuanya bisa berhenti, demi kebahagiaan yang selama ini ia impikan.
Seketika, cahaya menyilaukan menelannya, dan sebuah suara asing membisikkan janji-sebuah kehidupan baru yang lebih baik-dengan syarat ia harus melupakan segalanya.
Tanpa ragu, ia mengangguk, menyerahkan segalanya demi sepasang senyum yang tak pernah ia miliki.
Namun, saat ia membuka mata, dunia telah berubah. Asing, dingin, dan penuh ketakutan. Tanpa ingatan dan tanpa nama, ia dituduh sebagai iblis, lalu dilemparkan ke laut seperti kutukan yang harus dienyahkan.
Di ambang kematian, seseorang datang menolongnya. Seorang pangeran yang juga kehilangan segalanya.
Sejak itu, dua jiwa tanpa tempat pulang dan tanpa jati diri bertemu di bawah langit yang sama, mencari arti sebuah rumah. Tempat yang dapat mereka sebut pulang, meski mereka tak tahu apakah itu benar-benar ada.
Apakah kehidupan baru benar-benar lebih baik, atau justru lebih kejam dari yang ia tinggalkan? Akankah takdir menyembuhkan, atau kembali menghancurkan?
Ketika ingatannya kembali, mungkinkah ia akan bertahan dalam kehidupan yang tak pernah ia pilih?
Karena pada akhirnya, di persimpangan takdir, ia dihadapkan pada dua pilihan. Menerima takdir, atau mengorbankan diri sekali lagi.
©dreamjane07