Vennus05
Batavia, 1942.
Hari ketiga Jepang masuk. Senan jongkok di pinggir got, nginjek puntung rokok sampai hancur. Di matanya nggak ada lagi takut-yang ada cuma marah yang nggak tahu mau dilampiaskan ke mana.
Yasa datang bawa ransel berat sebelah. Di dalamnya, buku yang bisa bikin mereka ditembak mati: _Perjuangan Kita_.
"Kalau nggak ada yang baca, kita lupa kenapa harus marah," katanya.
Dari sanalah semuanya dimulai.
Tujuh tahun.
Dari Kebon Jeruk yang bau bensin dan ketakutan, ke Bogor yang berasnya cuma bisa dibeli dengan darah. Dari Rengasdengklok yang dingin dan basah keringat, ke Bandung yang terbakar jadi lautan api. Dari janji-janji yang diucap setengah mati, sampai akhirnya mereka berdiri di Stasiun Gambir di hari Indonesia benar-benar merdeka.
Ini bukan cerita tentang pahlawan besar.
Ini cerita tentang dua orang biasa yang memilih untuk tidak diam.
Tentang Senan yang belajar mencintai di sela-sela luka.
Tentang Yasa yang memilih bertahan, walau tiap hari menunggu kabar kematian.
Mereka saling bilang: "Jangan mati dulu ya."
Tapi perang nggak pernah dengar permintaan.
-Jalan Pulang dari Rengasdengklok-
adalah kisah tentang cinta yang tumbuh di tengah revolusi. Tentang janji yang dilanggar, dan janji yang akhirnya ditepati. Tentang dua orang yang bertaruh nyawa, hanya untuk bisa pulang-pulang ke tanah air, dan pulang ke satu sama lain.
Kalau kamu pernah bertanya, "Apa gunanya aku bertahan?"
Mungkin jawabannya ada di sini.