taawhobulat
- Reads 109
- Votes 14
- Parts 14
Di sudut kota yang nyaris terlupakan, berdiri sebuah kafe bernama Cafe Malawangi. Orang-orang datang ke sana dengan langkah ragu, lalu sebagian dari mereka tidak pernah benar-benar kembali. Kota menyebutnya misteri. Kota memilih lupa.
Biru Anggara, seorang jurnalis yang lelah pada kebenaran yang disederhanakan, menemukan bahwa Cafe Malawangi bukan tempat orang disakiti, melainkan ruang sunyi tempat seseorang akhirnya duduk berhadapan dengan dirinya sendiri. Mereka yang menghilang bukan korban acak, melainkan manusia dengan masa lalu kelam seperti keputusan kecil yang pernah melukai, dan kesalahan yang tak pernah dimintai pertanggungjawaban.
Ketika pengakuan mulai menyebar dan mengganggu keteraturan, kota menutup mata dengan rapi. Cafe Malawangi pun lenyap, namun bekasnya tinggal di kesadaran orang-orang yang pernah berani jujur, dan di pertanyaan yang tak bisa lagi dibungkam.