theotheia
- Reads 1,489
- Votes 368
- Parts 19
Apa jadinya jika Papa tidak pernah meminta satu anak lagi ke Mama saat si kembar menginjak usia lima tahun?
Mungkin, Wenala akan tetap tenang di dunianya sendiri, tenggelam di antara sains, aroma masakan, dan melodi yang ia senandungkan pelan. Begitu juga Seula, yang mungkin hanya akan peduli pada kanvas, lapangan olahraga, dan ritme tarian yang tegas. Hidup mereka mungkin bakal tetap berjalan dengan semestinya. Lebih teratur, lebih rapi.
Namun, juga akan jauh... lebih sepi.
Tidak akan ada imajinasi liar tentang angkasa dan alien. Tidak akan ada koleksi Moomin yang memenuhi sudut kamar. Tidak akan ada cerita hantu aneh yang membuat bulu kuduk berdiri sebelum tidur, dan tidak akan ada kepingan Lego berserakan yang entah kenapa selalu berakhir di bawah telapak kaki.
Dan yang pasti, tidak akan ada seseorang yang tiba-tiba melontarkan hal random sampai membuat alis mereka bertaut sambil membatin, "Ini anak tau ginian dari mana sih?"
Untungnya, keheningan itu tidak pernah terjadi.
Di antara dua jiwa yang sudah cukup bertolak belakang, semesta mengirimkan satu kepingan lagi untuk membuat semuanya lengkap-atau mungkin, sejak awal mereka memang kurang satu?
"Mama kasih nama bayi laki-laki ini... Renjun."