vherjaka
Nael, 24 tahun, divonis lima tahun penjara atas kasus yang bahkan sampai sekarang terasa tidak nyata baginya. Di hari pertama ia menjejakkan kaki di Blok C, blok paling ditakuti di lapas ini, ia sadar satu hal: tubuh kurusnya dan wajahnya yang "terlalu halus untuk seorang narapidana" adalah aib sekaligus incaran.
Ancaman datang bertubi-tubi sebelum minggu pertamanya berakhir. Di titik paling putus asa itulah Gin, penguasa Blok C, pria yang kata dan tatapannya cukup untuk membuat sipir pun segan, menawarkan sebuah kesepakatan. Perlindungan penuh, tanpa gangguan siapa pun. Sebagai gantinya, Nael menjadi miliknya.
Nael menerima. Ia menyebutnya transaksi. Ia meyakinkan diri sendiri bahwa ini semata soal bertahan hidup.
Tapi kepemilikan bagi Gin bukan sekadar kata. Semakin lama Nael berada di sisinya, semakin sempit ruang geraknya. Setiap tatapan yang ia berikan pada orang lain diinterogasi, setiap keputusan kecil harus seizin Gin. Rasa aman yang dulu ia syukuri berubah jadi sangkar yang lain.
Ketika Nael akhirnya mengumpulkan cukup keberanian untuk mengakhirinya, Gin tidak melepaskan begitu saja. Harga diri yang terluka mengubah "cinta" posesifnya menjadi dendam terbuka, dan Nael, tanpa perlindungan, kembali sendirian di tengah blok yang paling ia takuti.
Titik terendah itu justru mempertemukannya dengan Beer, kepala Blok D yang berdiri di kutub berlawanan dari Gin: tenang, punya prinsip, tidak tergiur kekuasaan, dan tidak pernah menuntut apa pun sebagai balasan atas pertolongannya. Dari sanalah tumbuh sesuatu yang belum pernah Nael rasakan sebelumnya, yaitu kedekatan yang tidak menuntut dan kepercayaan yang tidak dibayar dengan ketakutan.
Tapi Gin tidak akan melepaskan begitu saja apa yang ia anggap miliknya. Saat masa tahanan salah satu dari mereka mendekati akhir, perang dua blok pun tak terelakkan, menjadi pertaruhan terakhir sebelum gerbang kebebasan benar-benar terbuka.