Ayashi1251
"...Kitten? Sedang apa dia di sini..." (Itu bisikan halus Tuan Rafayel, yang untungnya kata 'Kitten'-nya diucapkan sangat lirih).
"Sstt. Diam, Rafayel. Jangan memanggilnya dengan sebutan itu di tempat seperti ini. Tapi... dari frekuensi suaranya, tingkat akurasinya memang 99,8%," (Suara dingin, datar, dan penuh perhitungan medis... Dokter Zayne!).
"Wkwkwk, kebetulan macam apa ini? Dia lagi asik nongkrong sama teman sebayanya tuh,"* (Suara cowok tegap yang renyah... Tuan Caleb).
"Irene... suaranya kalau tertawa ternyata nyaring juga, ya..." (Gumam polos Tuan Xavier yang terdengar agak menjauh, mungkin sambil mengunyah camilan).
"Biarkan saja. Fokus pada minuman kalian dan jangan membuat gerakan mencurigakan yang bisa menarik perhatian massa," sela suara bariton Tuan Sylus yang mengakhiri sesi bisik-bisik itu.
Cici langsung mematung di kursi. Jantung Cici rasanya mau copot melompat ke dalam gelas boba milktea. Tapi begitu mendengar mereka yang ternyata sangat pengertian dan kompak menjaga rahasia Cici di depan teman sekolah, batin Cici langsung mengembuskan napas lega yang luar biasa. Rahasia dan kontrak kerja Cici aman!
"Ci? Lu kenapa sih? Kok mukanya mendadak pucat begitu kayak habis lihat hantu?" tanya Reyna heran melihat Cici yang cuma diam mematung memegangi gelas boba dengan tangan gemetar.
"Ah? E-enggak kok! Aku cuma... cuma mendadak kepikiran tugas sejarah yang belum selesai, heheheheh!" jawab Cici dengan tawa canggung yang dibuat-buat, sambil berdoa dalam hati agar kelima raksasa di belakang saya tidak tiba-tiba usil berdehem kencang lagi untuk menguji mental anak SMA Cici! 😭