Mai!
3 stories
Ketika Bara Api Padam by byjulieeeee
byjulieeeee
  • WpView
    Reads 2,437
  • WpVote
    Votes 278
  • WpPart
    Parts 12
"Lu kayak mau jual panci." "Panci juga butuh model, tau!" "N-n-dik... i-ini... a-alamat-nya... g-ga-a a-ada RT-nya." "Udah valid kok, yang penting KTP-nya asli. Kalian tinggal, yaa... pura-pura ngerti prosedur kalau ditanya." "Prosedur apa?" "Ya prosedur apa aja. Kalau kalian jawab meyakinkan, orang nggak bakal nanya lanjut." "Oh berarti kalau ada yang bilang 'Ini alamatnya bener?' gue jawab 'Sesuai prosedur, Pak.' Gitu ya?" "Jangan goblok, Ram," seru Bima pada akhirnya. *** ​Sudah delapan bulan sejak Biru Adiyatma kembali ke rumah yang seharusnya ia tempati sepuluh tahun lalu. Bagi dunia luar, Biru adalah sebuah keajaiban. Dia selamat dari sindikat perdagangan manusia di Lampung, dia kembali ke pelukan ayahnya yang terpandang, dan dia memiliki Arga, kakak laki-laki yang siap memberikan dunia untuk menebus waktu mereka yang hilang. ​Dia memakai pakaian rapi untuk menutupi luka parut di sekujur tubuhnya, dibahunya. Dia tersenyum saat Arga mengajaknya bicara, dan dia belajar dengan tekun seolah-olah masa depannya tidak hancur di tengah hutan sawit. ​Namun, Arga mulai menyadari bahwa adiknya hanyalah sebuah cangkang. Biru tidak pernah mengeluh, tidak pernah marah, dan tidak pernah menangis. Biru yang mematikan emosinya; dia mengunci "Bima" di ruang gelap dalam ingatannya agar bisa menjadi "Biru" yang sempurna bagi keluarganya. Waktu tak pernah benar-benar menyembuhkan; ia hanya menumpuk debu di atas janji yang terlupakan. Sebab, di balik setiap tawa yang terlewat, ada ketakutan yang bersembunyi. Dan di balik setiap keheningan, ada sejarah yang menuntut untuk diakui.
Dua cangkir satu Meja  by byjulieeeee
byjulieeeee
  • WpView
    Reads 12,751
  • WpVote
    Votes 898
  • WpPart
    Parts 53
Dua cangkir di satu meja. Salah satunya kopi hitam yang mulai dingin, satunya lagi teh hangat yang baru diseduh. Sama seperti mereka-dua orang yang dulu satu keluarga, kini seperti orang asing di bawah atap yang sama. Dewa sudah terbiasa hidup sendiri. Ia bisa makan mi instan kapan saja tanpa ada yang mengomentari. Bisa pulang larut tanpa ada yang menunggu. Bisa menjalani hari-harinya tanpa merasa harus menjelaskan apa pun kepada siapa pun. Lalu datang ayahnya, yang entah sejak kapan mulai mengatur ulang dunianya. Mengajaknya makan bersama, menyeduhkan teh di pagi hari, bahkan diam-diam mengganti mi instan dengan sesuatu yang lebih bergizi. Dewa tidak mengerti-apa yang sebenarnya diinginkan ayahnya? Kenapa setelah tujuh tahun pergi, kini ia kembali dan bertingkah seolah-olah segalanya masih bisa diperbaiki? Di sisi lain, ada Nira, seseorang yang selalu ada untuknya. Tapi kini, ia merasa semakin jauh. Hubungan yang dulu terasa nyaman perlahan berubah menjadi sesuatu yang penuh pertanyaan. Di antara meja makan yang dulu selalu sepi, dua cangkir yang tak pernah sama, dan sepiring mi instan yang akhirnya tak lagi dimakan sendirian, Dewa harus menghadapi sesuatu yang selama ini selalu ia hindari: apa arti pulang yang sebenarnya? Slow fic Sudah selesai ditulis sampai ending, sudah dipublikasikan pula semuanya. Sebab, aku tidak suka menunggu. Jadi, aku tidak akan membuatmu menunggu. 48 bab secara total. Bacalah jika menurutmu layak dibaca, tinggalkan jika menurutmu membosankan. Terima kasih sudah meluangkan waktumu yang berharga. by Tigajully 2025
Halaman Nomor 85 by byjulieeeee
byjulieeeee
  • WpView
    Reads 733
  • WpVote
    Votes 15
  • WpPart
    Parts 3
"Kalau kamu bisa kembali ke masa lalu, siapa yang akan kamu selamatkan lebih dulu?" Seperti bintang-bintang di lautan, terkadang membentang berkerumunan, lalu dipisahkan awal hitam yang menggumpal.