danilsopan
"Bagaimana caramu menjaga nyala lentera iman, ketika badai kebebasan terus bertiup dari segala arah?"
________________________________________
Bagi Ilyas Al-Fatih, kota Edinburgh yang berselimut kabut bukanlah sekadar tempat menimba ilmu. Di tengah gemerlap pergaulan bebas Eropa, kota ini adalah medan perang bagi batinnya. Sebagai seorang penghafal Al-Quran yang hidup dalam kesederhanaan, Ilyas berjanji untuk memegang teguh Iffah-menjaga kesucian pandangan dan hatinya, yang bagaikan menjaga sebuah permata di tengah lautan lumpur.
Hingga takdir Yang Maha Kuasa mengujinya lewat dinding tipis flat nomor 7.
Elena Volkova. Gadis asal Eropa Timur dengan mata sebiru samudra, namun memiliki jiwa yang hancur berkeping-keping.
Elena menertawakan agama, memuja kebebasan tanpa batas, dan menenggelamkan luka masa lalunya dalam pekatnya malam kota Skotlandia.
Mereka ibarat siang dan malam yang tak mungkin bersatu. Namun, siapa sangka, lantunan surah Ar-Rahman di sepertiga malam dari kamar Ilyas perlahan mulai meruntuhkan tembok kesombongan sang gadis agnostik itu.
Ketika Elena mulai merangkak mencari cahaya Tuhan, ujian sesungguhnya justru menghantam Ilyas. Badai fitnah menerjang, masa lalu Elena mengancam, dan sebersit rasa yang tak diundang mulai mengetuk hati nurani pemuda itu.
Mampukah Ilyas membimbing Elena menuju hidayah tanpa menodai kesucian niatnya? Dan mampukah Elena melepaskan dunia demi cinta pada Rabb yang baru dikenalnya?
Sebab, cinta yang agung tak pernah lahir dari nafsu yang dituruti dan dibiarkan liar. Terkadang, cinta paling mulia hanya berani diutarakan lewat air mata yang jatuh, saat berhubungan dengan-Nya, saat dahi bersujud di bawah langit asing.
________________________________________
Latar: Edinburgh, Skotlandia.