_ZUE08
- Reads 2,110
- Votes 357
- Parts 8
🌻🎀
Banyak orang mengira masalah terbesar dalam sebuah pernikahan adalah karena perselingkuhan, kesibukan membuat pasangan saling menjauh, atau masalah ekonomi.
Namun, sedikit yang menyadari bahwa ada musuh lain yang jauh lebih melelahkan. Campur tangan keluarga, terutama seorang ibu yang tidak pernah menerima pilihan hidup anaknya sendiri.
Itulah kenyataan yang harus dihadapi A-na dan Yuha.
Di mata ibu A-na, Yuha tetaplah wanita yang merebut putrinya. Apa pun yang dilakukan Yuha selalu salah. Jika Yuha memasak, masakannya dianggap tidak sesuai selera keluarga. Jika Yuha membeli hadiah mahal, ia dituduh sedang membeli kasih sayang. Bahkan ketika Yuha memilih diam agar tidak memperkeruh keadaan, ia tetap disebut sebagai menantu yang sombong.
A-na berada di persimpangan yang paling sulit dalam hidupnya.
Haruskah ia terus menjadi anak yang berbakti, meski harus membiarkan istrinya terluka setiap hari?
Ataukah untuk pertama kalinya ia harus berdiri di sisi wanita yang telah bersumpah menemaninya seumur hidup?
Ibu A-na: "Dari awal Mama sudah bilang... dia bukan wanita yang pantas untukmu."
A-na: "Ma... Yuha tidak pernah melakukan apa pun yang buruk."
Ibu A-na: "Karena kamu terlalu buta oleh cinta."
Yuha: "Tidak apa-apa, Na. Aku sudah terbiasa."
A-na: "Tidak... seharusnya kamu tidak pernah terbiasa diperlakukan seperti itu."