restubumi
- Reads 151,163
- Votes 7,632
- Parts 113
Lima belas tahun pernikahan tidak selalu berakhir karena kebencian. Kadang, ia berakhir karena seseorang terlalu lama mengira bahwa rasa hambar adalah tanda bahwa cinta telah mati.
Bumigatra Naradwipa Senamurti (Gatra) pernah mencintai istrinya dengan seluruh hidupnya. Safira Anindita Prabasiwi Sudibyo (Safira) adalah perempuan yang mengenal dirinya lebih baik daripada siapa pun. Ia tahu kebiasaan kecil Gatra, memahami diamnya, menerima buruk dan baiknya, dan tetap tinggal bahkan ketika banyak janji Gatra tak pernah sempat ditepati.
Sampai Gatra bertemu Selena.
Selena membuatnya merasa dipahami. Membuatnya merasa kembali menjadi lelaki yang dicintai. Dan Gatra melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya: ia mengira perasaan itu lebih besar daripada cintanya kepada Safira.
Ia menceraikan perempuan yang telah menemaninya selama lima belas tahun.
Namun setelah semuanya benar-benar berakhir, Gatra justru mulai memahami sesuatu yang terlambat.
Ternyata kehilangan Safira tidak membuatnya lebih hidup. Kehilangan Safira membuatnya sadar bahwa selama ini ia telah kehilangan rumahnya sendiri.
Tetapi Safira tidak menunggunya.
Ia pergi. Mengejar gelar Profesornya. Menjadi perempuan yang semakin bersinar. Membesarkan putri mereka, Tiara. Membangun kehidupan yang tidak lagi membutuhkan Gatra.
Dan Gatra?
Ia hanya bisa berdiri dari kejauhan, menyaksikan perempuan yang dulu ia tinggalkan tumbuh menjadi seseorang yang bahkan semakin sulit ia jangkau.
Sebab setelah perceraian, Gatra akhirnya memahami satu hal yang paling menyakitkan:
Ia masih sangat mencintai Safira.
Tetapi cinta tidak selalu cukup untuk membuat seseorang kembali.
Dan ketika takdir membawa mereka melewati sakit, kehilangan, tahun-tahun tanpa status, dan ketakutan kehilangan untuk kedua kalinya, mereka harus menghadapi pertanyaan yang jauh lebih sulit daripada "Apakah kita masih saling mencintai?"
Melainkan..
Jika kita memang masih saling mencintai, apakah cinta itu masih pantas diberi kesempatan kedua?