blackcurrantbery
- Reads 27,102
- Votes 2,074
- Parts 40
Rumah itu terlalu sunyi untuk dua orang yang masih hidup. Sejak pemakaman orang tua mereka tiga bulan lalu, tak ada lagi suara tawa, tak ada lagi aroma kue dari dapur, tak ada lagi suara berat sang ayah yang biasa menggema memanggil nama mereka dari ruang kerja. Yang tersisa hanya detik jam dinding dan bunyi lembaran laporan keuangan yang dibalik tengah malam.
Kini ia adalah direktur utama. Dan ia tidak pernah menginginkannya. Di belakangnya, suara langkah ringan terdengar. Rangga. Adiknya lebih muda tiga tahun, tapi sorot matanya lebih tua dari usia mereka berdua digabungkan. Rangga tak pernah menangis di pemakaman. Dia berdiri paling depan, menatap liang lahat dengan wajah kosong.
"Abang bisa," katanya malam itu, saat Fajar gemetar memegang surat pengalihan saham. "Abang harus bisa."
Rangga tak pernah benar-benar melepaskannya. Ketika GPS di ponselnya mati, Rangga tidak panik. Ia hanya menatap layar laptopnya, menelusuri sinyal lain, jam tangan pintar yang melingkar di pergelangan Fajar. Hadiah ulang tahun darinya. Pelacak yang tak pernah Fajar sadari fungsinya lebih dari sekadar pengingat detak jantung.
Ia melakukan itu karena takut abangnya kembali " rusak" , dan Rangga benci memperbaiki sesuatu dua kali.
Fajar akhirnya mengerti satu hal yang tak pernah dia sadari sejak ayah mereka meninggal,ia bukan lagi direktur utama. Ia adalah milik Rangga. Fajar sadar bahwa tekanan itu bukan tentang bisnis, bukan tentang saham atau perusahaan. Tekanan itu adalah tentang kepemilikan. Tentang adik yang kehilangan ayah dan ibu, lalu memutuskan bahwa satu-satunya cara agar dunia tidak runtuh lagi, adalah dengan mengendalikan satu-satunya keluarga yang tersisa.