pingkipaii
- Reads 5,383
- Votes 475
- Parts 15
Satu bulan sejak janji suci diucapkan, kamar utama di kediaman mereka masih terasa asing bagi Naysila. Pernikahan yang dirancang oleh Mira dan Virza bersama kolega mereka, Anne dan Dimas, nyatanya hanya menjadi sebuah kontrak bisu yang menyiksa.
Di sana, di balik kemewahan yang dipamerkan, Naysila justru merasa seperti orang asing yang mencoba mengetuk pintu yang terkunci rapat dari dalam.
Pradipta tidak pernah memberinya ruang. Pria itu membawa aura angkuh yang pekat, menunjukkan dengan jelas bahwa kehadiran Naysila adalah gangguan bagi hidupnya yang belum selesai dengan masa lalu.
Nama Alia masih menggema di setiap sudut pikiran Pradipta, membuat setiap usaha Naysila untuk mendekat berakhir dengan penolakan yang mentah.
Tidak ada sentuhan, tidak ada kehangatan, hanya ada jarak antara di antara mereka.
Naysila tetap berdiri di sana, menelan semua sikap kasar dan tatapan tajam suaminya yang tak segan meledak kapan saja. Ia terjebak dalam pengabdian yang tidak diinginkan, mencoba mencintai lelaki yang bahkan enggan menatap matanya saat berbicara.
Namun, di balik penolakan yang terus-menerus itu, ada batas yang mulai terkikis dan emosi yang mulai meluap ke arah yang tak terduga.
Satu bulan hanyalah awal. Di depan mereka, ada rangkaian peristiwa yang siap menyeret keduanya ke dalam pusaran gairah dan luka yang jauh lebih dalam.
Naysila tidak tahu, apakah ia sedang berjuang untuk sebuah cinta, atau hanya sedang menantikan saat di mana ia benar-benar hancur tak bersisa.
[Don't Copy My Story!]