nunmul_
Rumah, bagi sebagian orang, adalah sebuah dermaga untuk menepi dan menyembuhkan luka. Namun bagi Gin, bangunan megah yang ia tinggali tak lebih dari sebuah sel isolasi yang dingin dan mengurung jiwanya. Tempat yang dulunya sempat terasa hangat untuk pulang, kini telah bermutasi menjadi neraka paling nyata yang harus ia hadapi setiap hari.
Di dalam rumah itu, Gin dikutuk oleh keadaan untuk menjadi sosok yang dewasa sebelum waktunya. Ia adalah anak sulung yang dipaksa menjadi tameng kokoh dan teladan yang tidak boleh retak sedikit pun bagi sang adik. Ia dituntut untuk selalu berdiri tegak, menjadi pelindung yang tak kenal rasa sakit, dan dilarang keras untuk terlihat rapuh di hadapan siapa pun.
Namun, di balik topeng ketegaran yang ia peragakan dengan begitu sempurna,Gin hanyalah seorang remaja yang kesepian. Di sudut kamarnya yang sunyi, ketika seluruh dunia memunggunginya, ia hanya bisa duduk mendekap lutut, memeluk luka batin dan fisik pribadinya seorang diri tanpa suara.
Di rumah yang seramai itu, tidak pernah ada satu pun pasang mata yang menatapnya dengan tulus. Tidak pernah ada satu pun suara yang sudi singgah, sekadar untuk menanyakan sebuah kalimat sederhana "Gin, apa kamu baik-baik saja?"
Di matanya, tempat itu bukan lagi sebuah rumah. Tempat itu adalah neraka berwujud istana mewah, di mana ia perlahan sekarat dalam keheningan dan kepasrahan.
┈┈┈┈․° ☣ °․┈┈┈┈