STKLSM15
Hidup Arsyad terlalu sempurna sampai rasa sakit cuma jadi teori ,Masalah datang sekadar numpang lewat, lalu pergi tanpa bekas.
Ia tumbuh dengan tawa, pelukan, dan kepastian bahwa apa pun akan baik-baik saja.
Makanya saat orang lain mengeluh, Arsyad cuma bisa heran.
"Luka doang. Emang bisa separah itu?"
Ia tidak tahu-
bukan karena bodoh,
tapi karena hidupnya terlalu ramah untuk mengajarkan kejamnya dunia.
Sampai dunia bosan memanjakannya.
Arsyad mati Lalu bangun di tubuh laki-laki seusianya.
Transmigrasi.
Konyol. Tidak masuk akal.
Awalnya Arsyad pikir hidupnya masih sama beruntungnya masuk ke keluarga super kaya, pewaris utama, segalanya terlihat sempurna Seolah semesta bilang: tenang, hidup lo masih VIP.
Sampai ia sadar...
tidak ada tangan yang menggenggam jemarinya , Tidak ada suara panik memanggil namanya Tidak ada pelukan lega karena ia masih hidup Yang ada hanya ruangan dingin, tatapan asing, dan keluarga yang berdiri rapi tanpa rasa.
Keluarga ini tidak berteriak saat marah.
Tidak menangis saat kecewa.
Tidak memeluk saat anaknya hancur.
Mereka menghukum dengan tenang.
Menyakiti tanpa suara Dan menyebutnya mendidik.
Keluarga ini bukan kejam karena benci.
Mereka kejam karena tidak pernah belajar peduli.
Anehya, Arsyad tidak langsung runtuh Ia tertawa, Bercanda Sengaja bikin onar.
Bukan karena berani-
tapi karena diam di tempat ini terasa seperti mati lagi.
Di depan mereka, Arsyad tampil santai.
Petantang-petenteng ,Bahasa lo-gue.
Mulut tajam tanpa rem Seolah ia kebal terhadap mereka
Padahal setiap malam, ia menatap cermin dan sadar:
pemilik tubuh ini bertahan sendirian... terlalu lama.
"Gila," bisiknya pelan.
"Lo hidup begini tiap hari?"
"Sekarang giliran gue yang dulunya sama sekali ga tau apa itu luka "
TAHAP REVISI
Murni dari pikiran saya