itsNoirVesper_
- Reads 347
- Votes 71
- Parts 27
"Sebab Langit tak pernah pergi, ia hanya menunggu Fajar untuk pulang."
Renjana Arunika terbiasa menutup diri pelan-pelan. Bukan karena tidak percaya pada siapa pun, tapi karena ia tahu. Sekali memberi akses, ada yang bisa masuk tanpa izin.
Langit tidak pernah meminta tempat di hidup Arunika dengan cara keras. Ia hadir seperti rumah. Tidak memaksa orang pulang, tapi membuat pulang terasa mungkin. Langit menunggu di batas, bertanya sebelum menyentuh, dan menahan diri agar Arunika tetap memiliki kendali atas hidupnya sendiri.
Ketika cerita yang belum selesai datang lagi dengan kata-kata yang menyakinkan dan tenang, Arunika kembali diuji: apakah "selesai" benar-benar selesai, atau hanya ditunda.
"Aku minta maaf kalau kamu kesel aku ngilang. Tapi aku emang lagi sibuk banget, Ren."
Dan Langit diuji dalam sunyi yang lain. Bagaimana tetap ada, tanpa berubah menjadi orang yang mengambil alih.
"Saya disini, kamu beresin dulu. Saya nggak akan ke mana-mana."
Edgar selalu memanggilku Renjana, mungkin karena aku adalah wujud dari rasa rindu yang tak tuntas. Tapi di mata Langit, aku seperti Arunika-fajar yang ia tunggu meski malam sedang terasa sangat gelap-gelapnya.
Di antara kesibukan rutinitas yang harus terus jalan, dan pesan yang terkadang hanya satu kata, mereka harus belajar membedakan dua hal yang selama ini terdengar sama:
Cinta yang dewasa tidak selalu terdengar lantang.
Kadang...cinta itu hanya diam.
Dan tetap tinggal adalah sebuah pilihan.
"Saat fajar mulai menyapa, akankah Arunika berani melangkah pergi, atau tetap diam menunggu di kegelapan yang sama?"
(Semua karakter, nama, dan peristiwa dalam cerita ini adalah hasil imajinasi penulis, kecuali beberapa tempat yang memang nyata namun digunakan secara fiktif. Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, tempat, atau kejadian adalah kebetulan semata dan tidak disengaja.)