Defanelove
- LECTURAS 27,715
- Votos 3,176
- Partes 30
Selama ini, Adara dikenal sebagai "cegil" yang tidak punya urat malu. Ia mengejar Gibran dengan segala cara, meski Gibran selalu membalasnya dengan tatapan dingin dan kata-kata kejam. Namun, segalanya hancur di hari Gibran mempermalukannya di depan umum. Gibran mematahkan pemberian adara dan membentaknya dengan kalimat yang merendahkan harga diri Adara sebagai perempuan.
"Sialan lo! GUE UDAH BILANG, GUE GA MAU, KOK LO MAKSA SIH?" Bentak Gibran dengan kuat.
"M-maaf, gue ga sengaja, Gib. Biar gue aja yang nyuci hoodie lo."
Saat itu juga, sesuatu dalam diri adara patah. ia berhenti. ia menyerah.
Namun, ketenangan yang Gibran dambakan ternyata terasa hampa. Saat adara benar-benar pergi, Gibran justru mulai dihantui rasa bersalah dan kehilangan yang asing.
Takdir kemudian mempertemukan mereka kembali lewat wasiat perjodohan dari mendiang ayah mereka. Gibran merasa ini adalah kesempatannya untuk memperbaiki segalanya. Ia mencoba mendekat, memberikan perhatian, bahkan melakukan hal-hal konyol yang dulu sering Adara lakukan untuknya.