darksi
- Reads 13,051
- Votes 2,032
- Parts 43
Tanpa sepatah kata pun, Carmen mengangkat tangannya dan menampar pipi kanan Yuha.
Plak!
Suara tamparan itu bergema di ruangan yang hening. Pipi Yuha memerah, lalu ia hanya menoleh perlahan, menatap Carmen dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Keluar dari hidupku ! desis Carmen, suaranya bergetar karena amarah dan napas yang memburu. Matanya berkaca-kaca, bukan karena sedih, tapi karena frustrasi yang luar biasa.
"Jangan main-main denganku"
"Jangan gunakan bisnis sebagai alat untuk menyiksaku !
"Masih marah berarti cintamu masih ada buatku," ucap Yuha pelan,
langkahnya mendekat.
Suaranya rendah,
hampir seperti bisikan hipnotis.
Carmen mundur selangkah,
merasa terpojok.
"Jangan mimpi!" teriak carmen lagi.
meski suaranya kehilangan sebagian kekuatannya.
Jantungnya berdegup kencang, bukan karena gairah, tapi karena panik.
"Aku merindukanmu," lanjut Yuha, Ia terus maju, mempersempit jarak hingga Carmen bisa mencium aroma parfum mahal Yuha yang familiar dan menyiksa.
"Ini satu-satunya cara agar aku bisa dekat denganmu lagi. Karena jika aku membiarkanmu pergi, kau akan benar-benar hilang dariku."
Carmen terdiam.
Kata-kata Yuha terasa tidak masuk akal, Logika Carmen berteriak bahwa ini adalah perilaku orang sakit jiwa, bukan orang yang mencintai.